Pemuda, Perubahan dan Masa Depan Indonesia

Oleh : Yusrin.
Pada mulanya organisasi pemuda itu masih bersifat primordialisme, kesukuan,
etnisitas dan berdasarkan keagamaan. Mereka berjuang hanya dan demi kelompoknya. Perjuangan untuk melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan dan berujung pada melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Continue reading

Keajaiban Sumpah Pemuda Indonesia

Memperingati dan mentasyakuri hari Sumpah Pemuda dan lagu Kebangsaan Indonesia yang lahir di rumah nomer 106 Gang Kenari jl. Keramat Raya Jakarta tahun 1928 bulan 10 (Oktober) tanggal 28.

Bagi generasi penikmat, generasi yang tinggal menikmati hasil perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia, memperingati-mensyukuri hari Sumpah Pemuda itu harus. Peristiwa Sumpah Pemuda termasuk lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah nikmat besar bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya itu laksana tirta amerta, air suci yang dapat menyembuhkan ibu pertiwi yang saat ini sedang mengalami sakit komplikasi. Juga dapat seperti cahaya yang bisa menyingkap kegelapan yang menyelimuti ibu pertiwi akibat ulah putra-putrinya yang nakal dan masuknya nilai atau pengaruh negatif dari luar negeri. Ia juga bisa menjadi jangkar yang menguatkan pendirian bangsa Indonesia ketika terombang-ambing oleh derasnya arus globalisasi sehingga tidak terjerembab dalam “gombalisasi”. Oleh karena itu mencari obat untuk kesembuhan ibu pertiwi bisa diperoleh dari bangsa Indonesia sendiri. Obat dari luar negeri, seperti IMF, bisa jadi malah dipalsukan.

Memang, akibat penyakit komplikasi itu, membuat segala sesuatu yang ada pada bangsa Indonesia tidak sampai. Ilmunya walaupun tinggi tidak sampai kepada kearifan, hukumnya tidak sampai pada keadilan, ekonominya tidak sampai pada pemerataan, persatuanya tidak sampai pada kekokohan, kekuasaannya tidak sampai pada pengayoman, kepimpinannya tidak sampai pada keteladanan

Lagu kebangsaan Indonesia Raya, Sumpah Pemuda, lambang negara Republik Indonesia, dasar negara, tujuan negara, sifat negara, pembukaan undang-undang dasar ’45, semua itu menyimpan nilai-nilai luhur untuk menyelamatkan Indonesia.

Bila menginsyafi hal ini maka memperingati Sumpah Pemuda adalah wajib. Biarlah orang lain ada yang mengatakan peringatan Sumpah Pemuda ini bid’ah dholalah. Dan memang, bagi generasi penikmat yang tidak bersyukur mungkin bertanya-tanya untuk apa Sumpah Pemuda, lagu kebangsaan Indonesia Raya. Peristiwa 81 tahun yang lampau itu, malah dianggap angin lalu yang tidak relevan diperingati di jaman sekarang. Hanya membuang biaya banyak tanpa ada manfaatnya.

Para pendahulu bangsa Indonesia sebenarnya sudah mendidik kita agar menjadi manusia yang bersyukur kepada sesama manusia. Satu contoh di dalam pembukaan UUD 45 alenia ke dua berbunyi : “ Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Disitu ada kata-kata; perjuangan kemerdekaan Indonesia dan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Perjuangan kemerdekaan berlangsung sejak tahun 1511 oleh raja Demak, Pati Unus melawan Portugis sampai tertangkapnya Pangeran Diponegoro tahun 1830. Dari kata-kata perjuangan kemerdekaan itu timbul deretan nama pahlawan pejuang kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan lalu dilanjutkan dengan pergerakan kemerdekaan sampai tahun 1945. Ada pergerakan di bidang politik, ekonomi, sosial, agama, budaya, dan lain-lain. Dari situ timbul pula nama-nama pahlawan pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia. Untuk menghargai jasa para pahlawan, nama-nama mereka dijadikan nama jalan-jalan besar; di ibukota, propinsi, kabupaten dan lain-lain. Mengapa tidak dijadikan nama gedung-gedung saja? Itu pendidikan. Agar jutaan manusia yang setiap hari lalu lalang melewati jalan nama pahlawan itu, ingat pengorbanan dan perjuangan yang telah ditempuh. Sayangnya, tidak banyak orang yang lalu lalang itu menyadarinya.

Orang yang tidak menyadari nilai-nilai luhur yang tersimpan dalam Sumpah Pemuda, lagu kebangsaan Indonesia Raya, dasar negara dan lain-lain, akan menganggap berbagai peristiwa besar itu sebagai kepunyaan masa lalu. Dan yang memprihatinkan, mereka tidak segan menghapus-melenyapkan aset bangsa itu dan selanjutnya, mengganti dengan nilai-nilai kotor seperti Bethorokolo (Bethoro : penguasa, Kolo : waktu)-mumpung berkuasa, Dosomuko (Doso artinya sepuluh, Muko artinya kepala). Satu orang memiliki sepuluh kepala; mata dua puluh, telinga dua puluh, mulut sepuluh. Masing-masing kemauannya sendiri-sendiri. Ada yang suka makan aspal dan lain sebagainya.

Kita harus senantiasa menjaga nilai-nilai luhur bangsa sebab kalau tidak nilai luhur itu akan terkikis dengan masuknya budaya luar yang berisi kekerasan yang diimport oleh pihak-pihak tertentu. Dan pada gilirannya, negara Indonesia akan tinggal nama. Namanya masih Indonesia tapi isinya berupa penjajahan. Ini terserah kita.

Apakah penjajahan itu ? Penjajahan itu bukan manusia, bukan pemerintah tetapi nafsu serakah, thoma’, kedholiman, ingin mencaplok hak orang lain. Bacalah alenia 1 pembukaan UUD ’45, “Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan”. Bukan manusianya tapi nafsu serakah yang demikian itulah yang harus dihapus, dibersihkan dari dunia, terutama dari bumi Indonesia. Mulai dari diri kita sendiri. Kalau tidak dihilangkan, sampai kapanpun penjajahan di Indonesia akan terus berlangsung, caplok sana, caplok sini.

Masalah Sumpah Pemuda adalah masalah yang besar, mengandung keajaiban- keajaiban. Keajaiban itu dapat dilihat dari tempat dan waktu terjadinya. Dari tempat terjadinya di rumah nomer 106 mengandung 7 keajaiban, seperti jumlah angkanya (1 + 0 + 6 = 7).

Tahun 1928 mengandung makna satu nusa, satu bangsa. Terdiri 1900 dan 28. Tahun 1900 itu satu nusa. Penjelasannya 1 + 9 = 10 dan angka 10 sama dengan angka satu. 28 juga satu – satu bangsa ( 2 + 8 = 10 ). Dan bulan Oktober, bulan kesepuluh – satu bahasa. Tanggal 28 juga sepuluh – satu Negara Republik Indonesia. Jadi waktu terjadinya sumpah pemuda itu mengandung makna Satu nusa, Satu bangsa, satu bahasa dan satu bentuk negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tanggal 28 yang mempunyai makna tentang bentuk negara NKRI itu juga sesuai dengan nama gang-nya yaitu gang Kenari yang berarti Kesatuan Negara Republik Indonesia. Gang artinya jalan sempit dan keadaan gang itu bermacam-macam. Tapi yang dituju adalah gang Kenari. Juga nama jalannya yaitu Kramat Raya, Kramat – Kemulyaan, Raya – besar. Menuju kemulyaan yang besar bukan jalan kehinaan.

Itu mengenai nama tempat dan waktunya. Belum lagi pelakunya yaitu para pemuda usia sekitar 25 tahun, bukan orang tua. Pada jaman penjajahan itu, ibu pertiwi di injak-injak kehormatannya, pemimpin-pemimpinnya di kerangkeng, kesadaran di bunuh, bangsanya di perbudak, kekayaan di keruk melaut ke negara mereka, lisan di berangus, telinga di sumbat. Pada kondisi yang sedemikian itu ibu pertiwi melahirkan Sumpah Pemuda. Dengan penuh keberanian para pemuda melintasi batas suku, agama, daerah, meninggalkan kebiasaan hura-hura untuk mempersatukan Indonesia. Ini ajaibnya pemuda masa itu, tidak seperti sekarang ini yang suka tawuran.

Bagi penjajah, banyaknya penduduk Indonesia, kerajaan-kerajaan yang ada di dalamnya, organisasi-organisasi tidak membuat mereka takut tapi munculnya sumpah pemuda dan lagu kebangsaan Indonesia membuat mereka seperti mendengar petir di siang bolong, bingung, ketakutan dan kelabakan. Usahanya membuat bangsa Indonesia terutama golongan ningrat, raden-raden menjadi ngantuk dan kalau bisa terus tidur, terancam. Mereka lalu sibuk membuat dekrit yang melarang lagu Indonesia Raya dinyanyikan, barang siapa diketahui menyanyikannya diancam penjara.

Penjajah tahu rahasia yang terkandung dalam lagu kebangsaan Indonesia. Diantaranya,  … marilah kita berseru Indonesia bersatu … seruan persatuan antar agama, antar suku, antar raja. Bukan hanya seruan persatuan yang membuat penjajah takut. Dalam lagu itu juga diserukan agar jiwa bangsa Indonesia segera bangun – bangunlah jiwanya bangunlah badannya – bangun untuk Indonesia Raya dan mencintainya. Lebih menakutkan lagi karena lagu itu menyerukan berulang-ulang – merdeka, merdeka, merdeka.

Bila saja makna dan seruan dalam lagu itu diamalkan bangsa Indonesia dengan sadar dan insyaf akan menjadi musibah besar bagi penjajah. Tidak lama lagi penjajah menuju lubang kubur. Sebaliknya, bagi bangsa Indonesia akan mengalami kejayaan. Sebab bangsa Indonesia memang berjiwa besar tapi sedang tidur, kena flu.

Istilah sumpah juga disadari sebagai hal yang ajaib. Sumpah adalah kata-kata yang mengandung masalah besar. Sejak tahun 686 M sampai tahun 1945 sumpah yang bersifat nasional sudah terjadi 4 kali dan efek yang ditimbulkan sangat dahsyat.

  • Tahun 686 Sumpah yang diucapkan Syailendra telah mengantarkan kebesaran Negara Indonesia pertama yaitu negara Sriwijaya, daerah kekuasaannya meliputi Pilipina dan Srilangka.
  • Sumpah Garuda, sumpahnya burung Garuda. Bagaimana burung bersumpah ? Burung adalah lambang jiwa, Garuda lambang besar – Sumpahnya jiwa yang besar. Seperti terdapat pada relief dinding candi Kidal di Malang. Yang mana di candi itu disimpan abu pembakaran raja Anusapati yang wafat pada tahun 1245. Dikisahkan, Garuda memiliki seorang ibu namanya Winoto tapi sedang diperbudak. Garuda bisa menyelamatkan ibunya bila ia bisa merebut guci yang berisi air Amerta. Garuda akhirnya bersumpah untuk berbakti pada ibunya – Winoto – ibu Pertiwi. Dengan tekad jiwa besar dan segala kemampuan yang dimiliki, Garuda bisa merebut guci itu dan membebaskan ibunya dari perbudakan. Ini cerita sejarah yang mengandung falsafah yang sebenarnya juga ada dalam lagu Indonesia Raya, “Indonesia tumpah darahku”.Tumpah darah itu merah dan putih. Merah artinya berani, putih artinya suci. Berani karena benar, bukan karena tabiat seperti singa, karena kepepet lalu menggerogoti uang negara. Yang salah saja berani, mengapa yang benar tidak ? Membela tanah tumpah darah. Disanalah aku berdiri tegak, berdiri imannya, pendiriannya. Untuk menjadi pandu ibuku. Itu sumpah. Makanya kalau menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dilakukan sambil berdiri. Berdiri itu artinya bersumpah mengamalkan isi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan itu.
  • Sumpah nasional yang ketiga tahun 1331, Sumpah Palapa – sumpah Maha Patih Gajah Mada. Setelah diucapkan, sumpah itu lalu diperjuangkan selama 2 tahun lebih, kemudian timbul kejayaan Mojopahit pada jaman Hayam Wuruk.

Berselang 597 tahun kemudian terjadi Sumpah Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Selang waktu 597 itu ternyata juga mengandung makna tiga, 5 + 9 + 7 jumlahnya 21, 2 dengan 1 sama dengan 3 – Satu nusa, Satu bangsa, Satu bahasa. Dan berselang 17 tahun dari Sumpah Pemuda muncul Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Peristiwa sumpah pemuda telah memunculkan seorang tokoh besar, pencipta lagu Indonesia Raya, WR. Supratman. Seorang pemuda berbadan kurus kering, fakir miskin, sampai wafat di Surabaya pada usia 35 tahun belum mempunyai rumah.

Tapi kefakiran, kekurusan yang menyelimuti badannya  itu tersimpan jiwa yang besar. Kebesaran jiwa itu dituliskan di atas secarik kertas sehingga menjadi lagu Kebangsaan Indonesia. Menjadi satu-satunya lagu yang keramat di antara ribuan lagu di Indonesia saat itu dan bisa meneteskan air mata. Satu-satunya lagu yang harus dinyanyikan dengan cara berdiri. Satu-satunya lagu yang ditakuti penjajah dan dilarang selama 14 tahun. Satu-satunya lagu yang masuk konstituti Negara Republik Indonesia (bab 15 pasal 36 b lagu Indonesia Raya). Satu-satunya lagu yang mengantarkan WR Supratman menjadi Pahlawan Nasional. Lagu yang senantiasa dikenang di seluruh Indonesia. Satu-satunya lagu yang tidak sembarangan cara menyanyikannya. Ada aturan, yang aturan itu sudah masuk lembaga negara. Bukankah itu menunjukkan kebesaran jiwa untuk melawan penjajah?

Lagu itu lahir pada malam yang sama dengan sumpah pemuda. Sekarang kita tinggal menikmati dan mensyukuri. Apakah tidak malu, melalui jalan-jalan yang namanya pahlawan-pahlawan itu, kalau kita tidak bersyukur. Saya yakin selama sifat malu belum koyak pasti akan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan bersyukur kepada sesama manusia. Nabi Muhammad bersabda : “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada sesama manusia tidak beryukur kepada Alloh”.

Sumber : www.alkautsar-dhibra.com

Sejatinya Pemuda Indonesia

Negara Indonesia dibangun melalui peradaban yang sangat panjang dari jaman kerajaan hingga jaman modern. Otonomi daerah telah memberikan warna dalam perkembangan kepemimpinan di Indonesia. Golongan pemimpin identik dengan golongan tua di mana, para pemuda kurang diberikan kesempatan untuk dapat memimpin. Namun, patut untuk disadari bahwa batasan usia tidaklah menjamin kematangan seseorang untuk lebih maju. Pemimpin yang baik adalah seseorang yang dapat mengemban amanah perjuangan Bangsa Indonesia yang telah diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.

Salah satu bukti yang membangkitkan semangat kaum muda Indonesia entah di sadari atau tidak adalah dengan adanya tayangan iklan yang menyatakan “belum tua belum boleh bicara”. Ini adalah suatu bukti teguran untuk para pemuda di Indonesia, sadar atau tidak tayangan tersebut sebetulnya telah memberikan semangat kepada para pemuda untuk angkat bicara atau siap menjadi pemimpin dengan bekal ilmu pengetahuan dan kemampuan intelektualitas dengan tidak melihat kedudukan dan jabatan orang tuanya.

Apabila melihat perjuangan Bangsa Indonesia atau sering dibilang sebagai masa kejayaan nusantara, justru yang membawa nusantara berjaya adalah sosok pemimpin dari seorang pemuda yang mempunyai kemauan keras untuk memajukan nusantara. Berkat pejuangan dan kemauan keras tersebut akhirnya nusantara berada dalam puncak kejayaan.

Sejarah Kerajaan Majapahit telah membuktikan, kemajuan kerajaan tersebut dipimpin di bawah seorang pemuda yakni Hayam Wuruk. Di mana Hayam Wuruk mendapatkan dukungan atau restu dari orang tuanya dan dari golongan tua untuk mengemban amanah memajukan nusantara. Namun, sekarang sungguh terbaik keadaanya, pemuda kurang diberikan kesempatan untuk menjadi pemimpin. Dominasi golongan tua telah menjadikan pemuda hanya sekadar ‘anak bawang’yang harus menuruti kehendak kaum tua.

Dalam sejarah Majapahit, Hayam Wuruk mendapatkan dukungan dari  Tribuanatunggaldewi (orang tuanya) dan Orang yang mempunyai pengaruh yakni Gajah Mada (golongan tua). Sejarah membuktikan bahwa sosok Hayam Wuruk yang mendapatkan restu dari orang tua dan dukungan dari golongan tua telah sukses membawa kejayaan nusantara. Sekarang kenapa peran orang tua dan golongan tua kurang memberikan kesempatan kepada para pemuda, justru yang terjadi adalah hegemoni hak-hak kaum muda.

Misalnya, batas usia untuk menjadi seorang pemimpin begitu banyak menemui kendala bagi para pemuda, seolah-oleh menganggap anak muda sekarang belum mempunyai kemampuan untuk memimpin, dengan dalih masih labil secara mental dan masih banyak emosional dalam mengambil keputusan. Kalau mau belajar dari buah kelapa justru semakin tua semakin enteng, nyaring bunyinya, dan koplak. Ini membuktikan bahwa semakin tua orang dengan mudah melontarkan kata-kata namun terkadang hanya sebatas bicara tanpa bertindak.

Sejarah kemerdekaan Indonesia telah membuktikannya, perjuangan pemuda mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan adalah berkat perjuangan kaum muda pada saat itu. Entah apa yang akan terjadi saat sekarang apabila para pemuda tidak melakukan desakan terhadap golongan tua mungkin masih dalam penjajahan.

Batas usia akan membuktikan kematangan seseorang, tidaklah demikian dengan budaya sejarah Indonesia, justru dengan adanya doa dan dukungan orang tua serta golongan tua. Maka kepemimpinan pemuda sekarang tidaklah mustahil akan memberikan konstribusi yang dapat membawa ke jaman keemasan dengan bercermin pada sejarah masa lalu. Usia yang memberikan batasan kepada kaum muda dalam budaya Indonesia sebetulnya berpengaruh tanpa disadari. Sebagai bukti, remaja Indonesia telah banyak memberikan kontribusi dalam beberapa tahun terakhir seperti juara lomba bidang ilmu pengetahuan yang telah meraih emas dan masih banyak lagi sebagai bukti bahwa sebetulnya para pemuda dan masih banyak kemampuan lain yang belum terungkap.

Pemuda sebagai ujung tombak bangsa Indonesia ternyata secara tidak langsung telah dihegemoni tentang hak-haknya oleh golongan tua yang merasa telah mapan dan lebih berpengalaman. Dalih itulah yang selalu didengung-dengunkan oleh kaum tua untuk menghegemoni hak-hak pemuda Indonesia.

HAM telah memberikan hak kepada seseorang untuk bebas berfikir namun, justru yang terjadi adalah hegemoni terhadap para intelektual muda. Intelektual muda seolah-olah hanya dijadikan sebagai alat pemuas kaum tua yang ingin mempertahankan hegemoninya tersebut. Salahkah, sekarang jika para pemuda Indonesia kurang dapat berkembang. Tentunya, hal itu tidak demikian adanya namun akibat belenggu hak-hak pemuda dalam mengembangkan dirinya yang selalu dihegemoni oleh golongan tua.

Sudah saatnyalah sekarang, kaum muda Indonesia bangkit dan memperjuangkan hak-haknya. Selama ini, pemuda sendiri telah dinanabobokan oleh golongan tua hanya sebagai alat belaka. Adakah keadilan HAM apabila para pemuda terus dibelengu oleh dongeng-dongeng yang selalu menceritakan golongan tua dalam memimpin bangsa ini.

Sebagai bukti konkrit, itu semua dapat dilihat dengan jelas sekali di dunia kampus. Dunia kampus yang dinilai sebagai pusat akademik namun kurang memberikan kebebasan secara psikologis bagi kaum muda untuk dapat berkarya. Dosen dianggap sebagai dewa yang maha tahu, mahasiwa dianggap orang yang sedang diajari untuk tahu tentang apa yang disampaikannya.

Bahkan, dalam organisasi kampus sendiri, senior selalu membanggakan dirinya dengan kata-kata “bagimana organisasi ini mau maju, lihat dong perjuangan abang dan emba kalian tempo dulu”. Sejujurnya kata tersebut kurang pantas untuk diucapkan oleh para senior di dunia akademik, sebab akan menimbulkan beban bukannya motivasi untuk maju dalam mengembangkan organisasi. Itulah bukti, bahwa hak kaum muda selalu mendapatkan tekanan dari golongan tua, senior dianggap paling tahu segala-galanya.

Pemuda sekarang harus dapat bangkit untuk memperjuangkan hak-haknya. Apabila ingin memajukan diri janganlah membiarkan terlena dalam buaian yang meninabobokan. Bangsa Indonesia sekarang sedang memerlukan pemuda yang tangguh dalam berjuang membawa kepada kejayaan. Sudah saatnyalah pemuda memperjuangkan hak-haknya agar dapat berkembang, selain itu juga golongan tua haruslah memberikan arahan kepada pemuda dan ibu bapak harus juga memberikan doa. Sebagai tradisi timur kita semua pecaya bahwa doa orang tua sangat manjur artinya dapat memberi kita kesenangan bahkan kesengsaraan.

Sesuai dengan pepatah Jawa “setetes banyu ngademi, seperci genik manasi”. Kata tersebut begitu sangat dalam artinya, bahwa doa orang tua akan memberikan kita kesejukan dan amarahnya akan mendatangkan malapetaka dalam kehidupan.

Begitu pentingnya doa orang tua dan dukungan golongan tua sebagai pengarah, jika pemuda diberikan kesempatan ini maka dengan melihat kejayaan nusantara tidaklah mustahil Indonesia akan menjadi lebih baik dari sekarang. Sebab, pemuda mempunyai mobilitas yang lebih tinggi, orang tua memberikan arah terhadap mobilitas pemuda, dan ibu memberikan kesejukan.

Hak-hak pemuda tersebut apabila diberikan kesempatan yang lebih adil dari sekarang, maka setidaknya Indonesia akan mempunyai rasa percaya diri yang lebih. Sekarang, rasa percaya diri pemuda tanpa disadari telah terjangkit virus yang sangat mematikan, yakni dalam hal pergaulan yang selalu dinilai dengan materi sampai dengan hilangnya harga diri yang terus dihegemoni. Maka, sudah selayaknya pemuda ke depan memiliki peran dalam memajukan nilai peradan nusantara yang telah lama dirindukan oleh banyak kalangan. Corgito Ergo Sum.

——————-

Sarip | Penulis adalah Dosen Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon, Ketua Lembaga Studi & Bantuan Hukum (LSBH ISIF). Sumber: fahmina.or.id

Pemuda di Tengah Badai Identitas

Presiden pertama bangsa Indonesia, Soekarno, pernah berkata bahwa berikan aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, tapi berikan aku 10 orang pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.

Hakikatnya seorang pemuda merupakan roda penggerakan bangsa. Sebagai seorang pemuda, sudah seharusnya bisa menjadi teladan yang baik bagi generasi berikutnya. Namun apa yang terjadi akhir – akhir ini, agaknya bisa menjadi pelajaran bagi semua kalangan yang ada.

Pada tahun 2011, tercatat dalam data Komisi Nasional Perindungan Anak (Komnas PA) bahwa telah terjadi tawuran antar-pelajar sebanyak 339 kasus dan memakan 82 orang korban jiwa. Padahal pada tahun sebelumnya hanya 128 kasus. Tak jauh beda dengan data di atas, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir terdapat 107 kasus pengaduan kekerasan kepada anak dengan bentuk kekerasan seperti kekerasan fisik, kekerasan psikis, pembunuhan, dan penganiayaan.

Fakta di atas sangatlah memprihatinkan jika dibandingkan ketika melihat apa yang terjadi pada era pra kemerdekaan Indonesia, saat itu semua elemen pemuda bergerak secara bersama–sama dalam satu komando tanpa ada perselisihan sedikitpun. Kala itu semua pemuda sadar bahwa kepentingan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi. Mereka paham akan arti persatuan dan kesatuan bangsa, tidak seperti saat ini. Pemuda saat ini selalu mendahulukan egonya dalam bertindak tanpa memikirkan apa konsekuensinya terlebih dahulu sehingga masih banyak pemuda yang tidak sadar akan potensinya masing-masing.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2011, jumlah penduduk Indonesia tahun 2010 usia muda lebih banyak daripada usia tua. Dalam data tersebut disebutkan bahwa jumlah anak kelompok usia 0-9 tahun sebanyak 45,93 juta, sedangkan anak usia 10-19 tahun berjumlah 43,55 juta jiwa. Diperkirakan pada tahun 2045, mereka yang berusia 0-9 tahun akan berusia 35-45 tahun, dan mereka yang berusia 45-54 tahun. Dari data di atas jelas bahwa jika para pemuda tidak bersiap siaga mulai dari sekarang, kita tak akan tahu apa yang akan terjadi pada bangsa ini kelak. Pemuda memegang peranan penting dalam pembanguan bangsa ini kala itu, karena banyak dari negara-negara lain yang malah berkurang jumlah pemudanya karena rendahnya tingkat kelahiran bayi saat ini, seperti Amerika, Jepang, dan beberapa negara di Eropa.

Pemuda yang dibutuhkan Indonesia saat ini dan di masa depan adalah pemuda yang berkarakter. Karakter seorang pemuda dapat digali lebih dalam melalui kepribadiannya. Namun hal itu sangat tidak mungkin dilakukan untuk masa-masa sekarang ini. Yang dapat pemerintah Indonesia lakukan adalah melalui pendidikan.

Pendidikan yang diwajibkan oleh Pemerintah Indonesia hanya berupa pendidikan 9 tahun. Sejak SD sampai SMP banyak dari siswa-siswi Indonesia yang hanya mendapatkan pendidikan yang berupa hardskill bukan softskill. Menurut survei MRI, keberhasilan seseorang ditentukan oleh softskill sebanyak 40 persen, hardskill sebanyak 20 persen, networking sebanyak 30 persen, dan finansial sebanyak 10 persen. Pendidikan karakter mutlak diperlukan untuk membangun softskill para peserta didik sejak usia dini karena mempunyai efek jangka panjang disamping pendidikan formal yang selama ini ada dalam kurikulum pendidikan 9 tahun.

Menurut Dennis Coon dalam bukunya Introduction to Psycology : Exploration and Aplication mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter adalah jawaban untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Pendidikan karakter sangat penting bagi perkembangan keribadian seorang anak sejak dini agar kelak bisa menjadi pemuda yang mampu berkontribusi banyak pada kemajuan bangsa dan negara ini.

Ada tiga cara mendidik karakter anak, yaitu:

  1. Mengubah lingkungan anak tersebut, melakukan pendidikan karakter dengan cara menata peraturan serta konsekuensi di sekolah dan di rumah. Menata peraturan sekolah juga harus memerhatikan peraturan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia. Agar tidak melenceng dari usaha pendidikan karakter tersebut, Kemendikbud juga telah memiliki grand design untuk generasi emas 100 tahun Indonesia merdeka yang meliputi pendidikan anak usia dini digencarkan dengan gerakan PAUD-isasi, peningkatan kualitas PAUD, serta pendidikan dasar yang berkualitas dan merata.
  2. Memberikan pengetahuan, memberikan pengetahuan bagaimana bertindak dalam pergaulan sehari-hari dan bagaimana mengaplikasikannya. Hal ini sangat lah penting mengingat tidak semua anak-anak ini mempunyai latar belakang keluarga dan pendidikan yang sama.
  3. Menjaga emosi, emosi manusia adalah kendali 88% dalam kehidupan manusia. Jika dapat menyentuh dan mengendalikannya, niscaya informasi yang kita berikan akan tertanam dalam setiap tindakannya daam jangka waktu yang lama.

Untuk menjadikan pemuda yang berkarakter hal-hal di atas sangat penting untuk menjadi dasar bagi sifat-sifat unggulan lainnya. Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran atau amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong, percaya diri dan pekerja keras, kepemimpinan dan keadilan, baik dan rendah hati, serta toleransi, kedamaian dan kesatuan merupakan beberapa karakter yang harus dibangun mulai dari sekarang kepada anak-anak usia dini agar kelak ketika mereka dewasa mereka masih mempunyai pegangan atau idealisme tersebut dalam menjalani hidupnya.

Tak hanya itu, hakikat seorang pemuda juga merupakan seorang pemimpin masa depan. Dewasa ini krisis kepemimpinan telah melanda bangsa Indonesia. Bangsa ini rindu akan para pemimpin-pemimpin bangsa masa lalu yang mempunyai semangat juang yang luar biasa sampai mereka rela untuk mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan bangsa dan negara ini.

Salah satu konsep kepemimpinan yang merupakan jawaban dari masalah di atas adalah konsep kepemimpinan profetik. Kepemimpinan profetik mempunyai tiga misi dasar yaitu misi humanisasi, liberasi, dan transendensi. Misi humanisasi merupakan misi memanusiakan manusia, mengangkat harkat hidup manusia, dan menjadikan manusia bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya. Misi liberasi merupakan misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan. Dan yang terakhir, misi transendensi merupakan manifestasi dari misi humanisasi dan liberasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan. Ketika seorang pemuda sudah mempunyai karakter dan konsep kepemimpinan seperti di atas, bangsa ini tak perlu khawatir dan ragu, karena harapan yang dulu sempat hilang kini hadir kembali di tengah-tengah kita semua.

——————-

Oleh: Putra Agung Prabowo, Agribisnis/ FEM/ IPB/ 2011

Sumber: ppsdms.org/index.php/artikel/584-pemuda-di-tengah-badai-identitas

“Siapa dan Mengapa” Pemuda Indonesia ?

Delapan puluh tiga (83) tahun yang silam para pemuda-pemudi dari berbagai tanah air mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Sebuah kesadaran mencari dan menemukan identitas diri sebagai manusia pemuda Indonesia. Proses integrasi identitas sebagai pemuda Indonesia tersebut bukanlah sebuah konsep yang dibangun berdasarkan kesamaan ras, etnis, suku, budaya, maupun agama, tetapi justru dibangun melalui sebuah keragaman (perbedaan) yang ada pada saat itu. Alhasil, integrasi pemuda saat itu secara tidak langsung telah menjadi tonggak sejarah lahirnya bangsa Indonesia.

Proses kelahiran bangsa Indonesia merupakan jerih payah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas penjajahan kaum kolonialis saat itu. Kondisi ketertindasan inilah yang melatarbelakangi para pemuda saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat martabat rakyat Indonesia. Tekad inilah yang menjadi komitmen dasar rakyat Indonesia dalam berjuang meraih kemerdekaan, yang akhirnya kemerdekaan pun diraih setelah 17 tahun peristiwa sumpah pemuda.

Siapa Pemuda Indonesia?

Berbicara pemuda, tentu parameternya tidak lain adalah usia. Dalam rumusan UU No 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan, usia pemuda adalah antara 16-30 tahun. Namun hingga saat ini pun, batasan umur kategori pemuda disetiap lembaga dan organisasi kepemudaan mencapai maksimum usia 40 tahun, bahkan ada yang sampai 45 tahun. Akan tetapi penulis akan mencoba memaknai pemuda menurut undang-undang yang menurut penulis sangat sejalan dengan standar dan tren, serta kebutuhan sesuai dengan perkembangan dan tatanan global.

Pembatasan mengenai usia pemuda antara 16-30 tahun semestianya harus disikapi secara bijaksana oleh semua pihak untuk dipandang sebagai sesuatu yang positif. Sebagai asset bangsa, pemuda Indonesia yang akan menjadi harapan bangsa dalam membangun dan menjaga identitas bangsa dimata dunia, harus diberikan kesempatan untuk dapat ‘menggembleng’ dirinya secara matang. Hal tersebut penting, karena ini merupakan cara yang cukup efektif dalam upaya memberdayakan pemuda yang sesungguhnya. Selama ini pemuda dengan usia 16-30 tahun kurang mendapatkan ruang gerak yang luas dalam mengembangkan kemampuannya, karena adanya ‘pertarungan’ yang direbutkan oleh para pemuda yang sebenarnya sudah tidak muda lagi.

Oleh karena itu, perlu adanya sebuah kesadran regenerasi dalam tubuh organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP), untuk menjalanaknan amanat undang-undang kepemudaan tersebut, terlebih bagi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang saat ini sedang menjalankan kongres bersamanya di Jakarta. KNPI sebagai induk dan wadah berhimpun OKP harus berani dan menegaskan diri atas peraturan yang ada, agar aturan ini juga dapat diikuti oleh OKP-OKP lain yang berhimpun dalam KNPI.

Selain itu, regenerasi kepemimpinan ke pemuda harus didasari oleh semangat kejujuran dan fair-based competition, dimana pemuda yang memang memiliki kemampuan dan kapabilitas yang memadai harus diberikan kesempatan. Karena selama ini pemuda ternyata secara tidak langsung telah dihegemoni tentang hak-haknya oleh ‘golongan tua’ yang merasa telah mapan dan lebih berpengalaman. Dalih itulah yang selalu didengung-dengunkan oleh ‘kaum tua’ untuk menghegemoni hak-hak pemuda Indonesia.

Mengapa Pemuda Indonesia?

Indonesia dengan jumlah populasi pemuda yang mencapai 60 juta lebih (BPS), merupakan sebuah kekuatan potensial dan patut menjadi perhatian khusus ‘penggiat’ negeri ini. Pemuda sebagai tulang punggung bangsa dimasa yang akan datang, tentunya perlu ada sebuah agenda utama untuk menyiapkan masa depan sekaligus menyiapkan lahirnya pemimpin muda Indonesia. Itulah tanggung jawab moral teragung dan panggilan sejarah terbesar dari setiap generasi Indonesia saat ini, yaitu bagaimana setiap masing-masing menyiapkan diri untuk masa depan dan solusi Indonesia yang lebih baik. Tentunya wacana ini harus bergulir menjadi kesadaran kolektif selain karena fitrah dari setiap diri pada hakekatnya adalah pemimpin dan memiliki jiwa kepemimpinan (Kullukum ra’in wakullu rain masulun ‘an ra’iyyatihi).

Karena pada kondisi saat ini pemuda dituntut untuk lebih siap menghadapi tantangan global. Perjuangan saat ini bukanlah perjuangan fisik dengan mengangkat senjata melawan penjajah, namun lebih mengerikan dari itu. Globalisasi dengan sistem kapitalisnya telah membawa tantangan tersendiri. Tantangan-tantangan seperti inilah yang harus terus menerus dipikirkan oleh pemuda dan dijadikan sebagai cambuk untuk merubah bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Semoga momentum sumpah pemuda ke 83 ini mampu menemukan ruh yang sesungguhnyanya sebagai pemuda Indonesia. Semangat pemuda yang tengah bergaung dan bergema serentak diseluruh negeri, dapat dijadikan sebuah momentum besar untuk memasuki spirit baru pemuda Indonesia, dengan harapan baru, kekuatan baru dan sebuah era baru ke-Indonesia-an.

—————

Oleh: Aris Ali Ridho | Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Unila

Sumber: politik.kompasiana.com

Pemuda dan Sosialisasi

PEMUDA DAN IDENTITAS
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani bermacam­macam harapan, terutama dari generasi lainnya. Hal ini dapat dimengerti karena pemuda diharapkan sebagai generasi penerus, generasi yang akan melanjutkan perjuangan generasi sebelumnya, generasi yang harus mengisi dan melangsungkan estafet pembangunan secara terus menerus.
Lebih menarik lagi pada generasi ini mempunyai permasalahan­permasalahan yang sangat bervariasi, di mana jika permasalahan ini tidak dapat diatasi secara proporsional maka pemuda akan kehilangan fungsinya sebagai penerus pembangunan.
Disamping menghadapi berbagai permasalahan, pemuda memiliki potensi­potensi yang melekat pada dirinya dan sangat penting artinya sebagai sumber daya manusia. Oleh karena itu berbagai potensi positif yang dimiliki generasi muda ini harus digarap, dalam arti pengembangan dan pembinaannya hendaknya harus sesuai dengan asas, arah, dan tujuan pengembangan dan pembinaan generasi muda di dalam jalur-jalur pembinaan yang tepat serta senantiasa bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional sebagaimana terkandung di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea IV.
Proses sosialisasi generasi muda adalah suatu proses yang sangat menentukan kemampuan diri pemuda untuk menselaraskan diri di tengah­tengah kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu pada tahapan pengembangan dan pembinaannya, melalui proses kematangan dirinya dan belajar pada berbagai media sosialisasi yang ada di masyarakat, seorang pemuda harus mampu menseleksi berbagai kemungkinan yang ada sehingga mampu mengendalikan diri dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat, dan tetap mempunyai motivasi sosial yang tinggi.
a. Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda
Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam keputusan Menteri Pendidikan

dan Kebudayaan Nomor: 0323/U/1978 tanggal 28 Oktober 1978. Maksud dari Pola Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda adalah agar semua pihak yang turut serta dan berkepentingan dalam penanganannya benar-benar menggunakan sebagai pedoman sehingga pelaksanaannya dapat terarah, menyeluruh dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan_ yang dimaksud.
Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda disusun berlandaskan :
1)
Landasan idiil
:
Pancasila
2)
Landasan konstitusional
:
Undang-Undang Dasar 1945
3)
Landasan strategis
:
Garis-garis Besar Haluan Negara
4)
Landasan historis
:    Sumpah     Pemuda     Tahun      1928   dan
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
5)
Landasan normatif
Etika, tata nilai dan tradisi luhur yang hidup dalam masyarakat.
Motivasi dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional, seperti telah terkandung di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea IV.
Atas dasar kenyataan di atas diperlukan penataan kehidupan pemuda karena pemuda perlu memainkan peranan yang penting dalam pelaksanaan pembangunan. Hal tersebut mengingat masa depan adalah kepunyaan generasi muda, namun disadari pula bahwa masa depan tidak berdiri sendiri. Ia adalah lanjutan masa sekarang dan masa sekarang adalah hasil masa lampau. Dalam hal ini, maka Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda haruslah menanamkan motivasi kepekaan terhadap masa datang sebagai bagian mutlak masa kini. Kepekaan terhadap masa datang membutuhkan pula kepekaan terhadap situasi-situasi lingkungan, untuk dapat merelevansikan partisipasinya dalam setiap kegiatan bangsa dan negara. Untuk itu pula kualitas kesejahteraan yang membawa nilai-nilai dasar bangsa merupakan faktor penentu yang mewarnai pembinaan generasi muda dan bangsa dalam memasuki masa datang.
Tanpa ikut sertanya generasi muda, pembangunan ini sulit berhasil bukan saja karena pemuda merupakan lapisan masyarakat yang cukup besar, tetapi yang lebih penting tanpa kegairahan dan kreatifitas pemuda maka pembangunan bangsa kita dalam jangka panjang dapat kehilangan kesinambungannya.

Apabila pemuda pada masa sekarang terpisah dari persoalan-persoalan masyarakatnya, maka sulit akan lahir pemimpin masa datang yang dapat memimpin bangsanya sendiri.
Dalam hal ini Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda menyangkut dua pengertian pokok, yaitu :
a)         Generasi muda sebagai subyek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yacg telah memiliki bekal-bekal dan kemampuan serta landasan untuk dapat mandiri dalam keterlibatannya secara fungsional bersama potensi lainnya, guna men yelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa dalam rangka kehidupan berbangsa dan bernegara serta pembangunan nasional.
b)        Generasi muda sebagai obyek pembinaan dan pengembangan ialah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan ke arah pertumbuhan potensi dan kemampuan-kemampuannya ke tingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara fungsional.
b. Masalah dan Potensi Generasi Muda 1) Permasalahan Generasi Muda.
Berbagai permasalahan generasi muda yang muncul pada saat ini antara lain :
a)         Dirasa menurunnya jiwa idealisme, patriotisme dan nasionalisme di kalangan masyarakat termasuk generasi muda.
b)        Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
c)         Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik yang formal maupun non formal. Tingginya jumlah putus sekolah yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang bukan hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan seluruh bangsa.
d)        Kurangnya lapangan kerja/kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran/setengah pengangguran di kalangan generasi muda dan mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai problem social lainnya.

e)         Kurangnya gizi yang dapat menyebabkan hambatan bagi perkembangan kecerdasan dan pertumbuhan badan di kalangan generasi muda, hal tersebut disebabkan oleh rendahnya daya beli dan kuranguya perhatian tentang gizi dan menu makanan seimbang di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah.
f)          Masih banyaknya perkawinan di bawah umur, terutama di kalangan masyarakat daerah pede saan.
g)  Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi perkawinan dan kehidupan keluarga.
h)         Meningkatnya kenakalan remaja termasuk penyalahgunaan narkotika.
i)          Belum adanya peraturan perundangan yang rnenyangkut generasi muda.
Dalam rangka untuk memecahkan permasalahan generasi muda tersebut di atas memerlukan usaha-usaha terpadu, terarah dan berencana dari seluruh potensi nasional dengan melibatkan generasi muda sebagai subyek pembangunan. Organisasi-organisasi pemuda yang telah berjalan balk adalah merupakan potensi yang slap untuk dilibatkan dalam kegiatan pembangunan nasional.
2) Potensi-potensi Generasi Muda/Pemuda
Potensi-potensi yang terdapat pada generasi muda perlu dikembangkan adalah :
a)    Idealisme dan daya kritis.
Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada, maka is dapat melihat kekurangan-kekurangan dalam tatanan dan secara wajar mampu mencari gagasan baru.
Pengejawantahan idealisme dan daya kritis perlu untuk senantiasa dilengkapi dengan landasan rasa tanggung jawab yang seimbang.
b)    Dinamika dan kreatifitas.
Adanya idealisme pada generasi muda, maka generasi muda memiliki potensi kedinamisan dan kreatifitas yakni kemampuan dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan dan penyempurnaan kekurangan­kekurangan yang ada atau pun mengemukakan gagasan-gagasan/alternatif yang baru sama sekali.

c)    Keberanian mengambil resiko.
Perubahan dan pembaharuan termasuk pembangunan, mengandung resiko dapat meleset, terhambat atau gagal. Namun mengambil resiko itu adalah perlu jika kemajuan ingin diperoleh.
Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha-usaha yang mengandung resiko, kesiapan pengetahuan, perhitungan dan keterampilan dari generasi muda akan memberi kualitas yang baik kepada keberanian mengambil resiko.
d)   Optimis dan kegairahan semangat.
Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda akan merupakan daya pendorong untuk mencoba maju lagi.
e)    Sikap kemandirian dan disiplin murni.
Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi dengan kesadaran disiplin murni pada dirinya, agar dengan demikian mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.
f)
g)
Terdidik
Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kuantitatif maupun dalam arti kualitatif generasi muda secara relatif lebih terpelajar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi-generasi pendahulunya.
Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan.
Keanekaragaman generasi muda merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat merupakan hambatan jika hal itu dihayati secara sempit dan ekslusif.
Tapi keanekaragaman masyarakat Indonesia dapat merupakan potensi dinamis dan kreatif jika keanekaragaman itu ditempatkan dalam rangka integrasi nasional yang didasarkan atas semangat dan jiwa Sumpah Pemuda tahun 1928 serta kesamaan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sehingga dengan demikian merupakan sumber yang kaya untuk kemajuan bangsa itu sendiri. Untuk itu generasi muda perlu didorong untuk

menampilkan potensinya yang terbaik dan diberi peran yang jelas serta bertanggung jawab dalam menunjang pembangunan nasional.
h)     Patriotisme dan nasionalisme.
Pemupukan rasa kebanggaan, kecintaan dan turut serta memiliki bangsa dan negara di kalangan generasi muda perlu lebih digalakkan, pada gilirannya akan mempertebal semangat pengabdian dan kesiapannya untuk membela dan mempertahankan bangsa dan negara dari segala bentuk ancaman. Dengan tekad dan semangat ini generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional.
i)      Sikap kesatria.
Kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab social yang tinggi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan terus menjadi sikap kesatria di kalangan generasi muda Indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan bagi masyarakat dan bangsa.
Kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi.
Generasi muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi bila secara fungsional dapat dikembangkan sebagai transformator dan dinamisator terhadap lingkungannya yang lebih terbelakang dalam ilmu dan pendidikan serta penerapan teknologi, baik yang maju, madya maupun yang sederhana.
Sosialisasi adalah proses yang membatu individu melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar is dapat berperan dan berfungsi, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Proses sosia lisasi sebenarnya berawal dari dalam keluarga.
Bagi anak-anak yang masih kecil, situasi sekelilingnya adalah keluarga sendiri. Gambaran diri mereka merupakan pantulan perhatian yang diberikan keluarga kepada mereka. Persepsi mereka tentang dirinya dunia dan masyarakat di sekelilingnya secara langsung dipengaruhi oleh tindakan dan keyakinan keluarga-keluarga mereka. Nilai-nilai yang dimiliki oleh individu dan berbagai peran diharapkan dilakukan oleh seseorang, semuanya berawal dari dalam lingkungan keluarga sendiri.

Melalui proses sosialisasis, individu (pemuda) akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya dengan proses sosialisasi, individu menjadi tahu bagaimana is mesti bertingkah laku ditengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Kepribadian seseorang melalui proses sosialisasi dapat terbentuk di mana kepribadian itu merupakan suatu komponen pemberi atau penyebab warna dari wujud tingkah laku sosial manusia, jadi dalam hal ini sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dalam hubungannya dengan sistem sosial. Dalam proses tersebut seorang individu dari masa anak-anak hingga dewasa belajar pola-pola tindakan dalam interaksi beraneka ragam atau macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap individu dalam masyarakat yang berbeda mengalami proses sosialisasi yang berbeda pula, karena proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan. Jadi sosialisasi dititikberatkan soal individu dalam kelompok melalui pendidikan dan perkembangannya. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian (self) dan kepribadian seseorang terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya.
Proses sosialisasi ini berarti tidak berhenti sampai pada keluarga, tapi masih ada lembaga lainnya. Cohen (1983) menyatakan bahwa lembaga­lembaga sosialisasi yang terpenting ialah keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan media masa. Dengan demikian sosialisasi dapat berlangsung secara formal ataupun informal. Secara formal, proses sosialisasi lebih teratur karena di dalamnya disajikan seperangkat ilmu pengetahuan secara teratur dan sistematis serta dilengkapi oleh perangkat norma yang tegas dan harus dipatuhi oleh setiap individu. Proses sosialisasi ini dilakukan secara sadar dan sengaja. Sedangkan yang informal, proses sosialisasi ini bersifat tidak sengaja, terjadinya ini bila seseorang individu mempelajari pola-pola keterampilan, norma atau perilaku melalui pengamatan informal terhadap interaksi orang lain.
Meskipun sosialisasi itu mungkin berbeda-beda dalam berbagai lembaga, kelompok maupun masyarakat, namun sasaran sosialisasi itu sendiri banyak memiliki kesamaan.
Tujuan pokok sosialisasi adalah :
1) Individu harus diberi ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat.

2)         Individu harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya.
3)         Pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipela jari melalui latihan-latihan mawas diri yang tepat.
4)         Bertingkah laku selaras dengan norma atau tata nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada lembaga atau kelompok khususnya dan masyarakat umumnya.
Faktor lingkungan bagi pemuda dalam proses sosialisasi memegang peranan penting, karena dalam proses sosialisasi pemuda terus berlanjut dengan segala daya imitasi dan identitasnya. Pengalaman demi pengalaman akan diperoleh pemuda dari lingkungan sekelilingnya. Lebih-lebih pada masa peralihan dari masa muda menjelang dewasa, di mana sering terjadi konflik nilai, wadah pembinaan harus bersifat fleksibel, mampu dan mengerti dalam membina pemuda harus mematikan jiwa mudanya yang penuh dengan fasilitas hidup.
PERGURUAN DAN PENDIDIKAN.
A. MENGEMBANGKAN POTENSI GENERASI MUDA
Jika pada abad ke 20 ini Planet Bumi dihuni oleh mayoritas penduduk berusia muda, dengan perkiraan berusia 17 tahunan, tentu akan menimbulkan beberapa pertanyaan. Dua di antara deretan pertanyaan yang muncul adalah: Apakah generasi muda itu telah mendapat kesempatan mengenyam dunia pendidikan dan keterampilan sebagai modal utama bagi insan pembangunan? Sampai di mana penyelenggaraan pendidikan formal dan non formal berperan bagi pembangunan, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang?
Pada kenyataannya negara-negara sedang berkembang masih banyak mendapat kesulitan untuk penyelenggaraan pengembangan tenaga usia muda melalui pendidikan. Sehubungan dengan itu negara-negara sedang berkembang merasakan selalu kekurangan tenaga terampil dalam mengisi lowongan­lowongan pekerjaan tertentu yang meminta tenaga kerja dengan keterampilan khusus. Kekurangan tenaga terampil itu terasa manakala negara-negara sedang berkembang merencanakan dan berambisi untuk mengembangkan dan memanfaatkan sumber-sumber alam yang mereka miliki. Misalnya dalam

eksplorasi dan eksploitasi sektor pertambangan, baik yang berlokasi di darat maupun yang ada di lepas pantai.
Hal yang sama juga dirasakan manakala negara-negara sedang berkembang berniat untuk melaksanakan program-program industrialisasi yang menuntut tenaga-tenaga terampil berkualitas tinggi.
Di negara-negara maju, salah satu diantaranya adalah Amerika Serikat. Di negeri ini pada umumnya para generasi muda mendapat kesempatan luas dalam mengembangkan kemampuan dan potensi idenya. Para mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda, didorong, dirangsang dengan berbagai motivasi dan dipacu untuk maju dalam berlomba menciptakan suatu ide/ gagasan yang harus diwujudkan dalam suatu bentuk barang, dengan berorientasi pada teknologi mereka sendiri. Untuk mengembangkan ide-ide/gagasan­gagasan itu, Institut Teknologi Maschussests (MIT) Universitas Oregon dan universitas Carnegie mellon (CMU) pada tahun 1973 di Pittsburgh, Pennsyl­vania, telah membuat proyek bersama berjangka waktu lima tahunan, melibatkan sekitar 600 mahasiswa dan 55 anggota fakultas dalam program- program belajar dan membaharu dalam wadah Nasional Science foundation (NSF), di masing-masing pusat inovasi universitas-universitas tersebut. Hasil yang dicapai proyek itu : Lebih dari dua lusin produk, proses atau pelayanan baru telah dipasarkan dan menciptakan hampir 800 pekerjaan baru, dan memperoleh hasil penjualan sebesar $46,5 juta (Kingsbury, Louise, 1978: 59).
Gagasan dan pola kerja yang hampir serupa telah dikembangkan pula di negara-negara Asia, misalnya : Jepang, Kore Selatan, Singapura, Taiwan. Jerih payah dan ketentuan para inovator pada sektor teknologi industri itu membawa negara-negara itu tampil dengan lebih menyakinkan sebagai negara­negara yang berkembang mantap dalam perekonomiannya.
Sebagaimana upaya bangsa Indonesia untuk mengembangkan potensi tenaga generasi muda agar menjadi inovator-inovator yang memiliki keterampilan dan skill berkualitas tinggi.
Pembinaan sedini mungkin difokuskan kepada angkatan muda pada tingkat SLTP/SLTA, dengan cara penyelenggaraan lomba karya ilmiah tingkat nasional oleh lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Minat generasi muda untuk mengikuti lomba karya ilmiah dari berbagai cabang disiplin ilmu itu ternyata lebih banyak dari perkiraan semula. Setiap tahun peserta lomba karya ilmiah remaja itu semakin bertambah jumlahnya. Yang sangat menggembirakan, dalam usia yang belia itu mereka telah mampu menghasilkan karya-karya ilmiah yang cukup membikin kagum para cendikiawan tua.

Pembinaan dan pengembangan potensi angkatan muda pada tingkat perguruan tinggi, lebih banyak diarahkan dalam program-program studi dalam berbagai ragam pendidikan formal. Mereka dibina digembleng di laboratorium­laboratorium dan pada kesempatan-kesempatan praktek lapangan.
Kaum muda-,memang betul-betul merupakan suatu sumber bagi pengembangan masyaraka dan bangsa. Oleh karena itu, pembinaan dan perhatian khusus harus diberikan bagi kebutuhan dan pengembangan potensi mereka.
B. PENDIDIKAN DAN PERGURUAN TINGGI.
Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor yang sangat menentukan dalam proses pembangunan. Hal ini karena manusia bukan semata-mata menjadi obyek pembangunan, tetapi sekaligus juga merupakan subyek pembangunan. Sebagai subyek pembangunan maka setiap orang harus terlibat secara aktif dalam proses pembangunan; sedangkan sebagai obyek, maka hasil pembangunan tersebut harus bisa dinikmati oleh setiap orang.
Disinilah terletak arti penting dari pendidikan sebagai upaya untuk terciptanya kualitas sumber daya manusia, sebagai prasarat utama dalam pembangunan. Suatu bangsa akan berhasil dalam pembangunannya secara `self propelling’ dan tumbuh menjadi bangsa yang maju apabila telah berhasil memenuhi minimum jumlah dan mutu (termasuk relevansi dengan pembangunan) dalam pendidikan penduduknya. Modernisasi Jepang agaknya merupakan contoh prototipe dalam hubungan ini.
Indonesia demikian pula menghadapi kenyataan untuk melakukan usaha keras “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dewasa ini sudah sekitar 80% dari usia Sekolah Dasar (6-12) tahun dapat ditampung oleh fasiltias pendidikan dasar yang ada. Persentase jumlah penduduk yang masih buta huruf diperkirakan sebagai 40%.
Tetapi masalah pendidikan bukan saja masalah pendidikan formal, tetapi pendidikan membentuk manusia-manusia membangun. Dan untuk itu diperlukan kebijaksanaan terarah dan ,terpadu di dalam menangani masalah pendidikan ini. Rendahnya produktivitas rata-rata penduduk, banyaknya jumlah pencari kerja, “Under utilized population”, kurangnya semangat keWiraswastaan, merupakan hal-hal yang memerlukan perhatian yang sungguh­sungguh.

Sebab hal itu semua akan berarti belum terlepasnya Indonesia dari belenggu keterbelakangan dan kemiskinan sebagaimana diharapkan pendidikan yang dapat mengembangkan semangat “inner will peningkatan kemampuan din dan bangsa” yang terpencar dalam pembangunan pendidikan mental, intelektuan dan profesional bagi seluruh penduduk dan pemuda Indonesia.
Sebagai satu bangsa yang menetapkan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan negara Indonesia, maka pendidikan nasional yang dibutuhkan adalah pendidikan dengan dasar dan dengan tujuan menurut Pancasila. Dalam implementasinya, pendidikan tersebut diarahkan menjadi pendidikan pembangunan, satu pendidikan yang akan membina ketahanan hidup bangsa, baik secara fisik maupun secara ideologis dan mental. Melalui pendidikan itu diharapkan bangsa Indonesia akan mampu membebaskan din dari belenggu kemiskinan dan keterbelakangan, melalui suatu alternatif pembangunan yang lebih baik, serta menghargai kemajuan yang antara lain bercirikan perubahan yang berkesinambungan.
Untuk itu maka diperlukan adanya perubahan-perubahan secara mendasar dan mendalam yang menyangkut persepsi, konsepsi serta norma-norma kependidikan dalam kaitannya dengan cita-cita bermasyarakat Pancasila. Dalam hal ini kiranya pemerintah telah cukup berhasil dalam menegakkan landasan­landasan ideal serta landasan koseptual terhadap pembaharuan pendidikan menuju sistem pendidikan nasional yang tepat arah dan tepatguna.
Bila dibandingkan dengan sektor-sektor pembangunan lainnya, sektor pendidikan termasuk sektor yang cukup pesat kemajuannya; kalau tidak dalam aspek kualitatif, sedikitnya dalam aspek kuantitatif, sektor tersebut telah mencapai hasil yang dapat dibanggakan. Pada saat ini bukan saja jumlah para remaja yang dapat ditampung dalam pendidikan formal melonjak tinggi, tetapi juga semakin besar jumlah dari mereka yang berkesempatan mendapatkan pendidikan non formal dengan berbagai keahlian dan keterampilan. Tidak berlebihan kiranya apabila prestasi keseluruhan ini dinilai sebagai suatu permulaan yang akan merupakan pra kondisi yang subur menuju terciptanya satu masyarakat belajar secara menyeluruhan.
Akan tetapi, tanpa mengecilkan arti dari semua yang telah dicapai selama ini; berbagai masalah telah timbul, yaitu masalah-masalah obyektif yang baru, yang tidak pernah ada sebelumnya.
Setidak-tidaknya dua faktor yang dapat kita amati sebagai faktor yang sangat penting dalam pembangunan dewasa ini : semakin banyaknya manusia yang membutuhkan pendidikan dan semakin bervariasinya mutu pendidikan yang diharapkan oleh mereka.

Walaupun pada saat ini sistem pendidikan mulai dikelola secara lebih terbuka dan memungkinkan diterapkannya inovasi teknologi serta perkembangan-perkembangan ilmu mutakhir, dan walaupun anggaran biaya­biaya kependidikan semakinhari semakin bertambah sehingga telah merupakan jumlah yang cukup besar dibandingkan dengan biaya pembinaan sektor lainnya, nampaknya persoalan yang tidak mudah diatasi. Demokratisasi kependidikan, baik yang berjalan secara horizontal maupun yang bergerak ke arah vertikal, adalah masalah-masalah sehari-hari yang dihadapi pemerintah di dalam rangka mewujudkan cita-cita pemerataan pendidikan bagi seluruh warga negara di dalam konteks masyarakat keseluruhannya.
Dalam arti inilah, maka pembicaraan tentang generasi muda/pemuda, khususnya yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi menjadi penting, karena berbagai alasan.
Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mereka memiliki pengetahuan yang luas tentang masyarakatnya, karena adanya kesempatan untuk terlibat di dalam pemikiran, pembicaraan serta penelitian tentang berbagai masalah yang ada dalam masyarakat. Kesempatan ini tidak dimiliki oleh generasi muda pemuda pada umumnya. Oleh karena itu, sungguh pun berubah-ubah, namun mahasiswa termasuk yang terkemuka di dalam memberikan perhatian terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat secara nasional.
Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama di bangku sekolah, maka mahasiswa mendapatkan proses sosialisasi terpanjang secara berencana, dibandingkan dengan generasi muda/pemuda lainnya. Melalui berbagai mata pelajaran seperti PMP, Sejarah dan Antropologi maka berbagai masalah kenegaraan, dan kemasyarakatan dapat diketahui.
Ketiga, mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis dan suku bangsa dapat menyatu dalam bentuk terjadinya akulturasi sosial dan budaya. Hal ini akan memperkaya khasanah kebudayaannya, sehingga mampu melihat Indonesia secara keseluruhan.
Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise di dalam masyarakat, dengan sendirinya merupakan elite di kalangan generasi muda/ pemuda, umumnya mempunyai latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan lebih baik dari keseluruhan generasi muda lainnya. Dan adalah jelas bahwa mahasiswa pada umumnya mempunyai pandangan yang lebih luas dan jauh ke depan serta keterampilan berorganisasi yang lebih baik di bandingkan dengan generasi muda lainnya.
REPRENSI:
Elearning.gunadarma.ac.id/…isd/bab4-pemuda_dan_sosialisasi.pdf
Sumber: taufikhidayat321.blogspot.com

PEMUDA: Potensi dan Permasalahan

. Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda

Pola dasar pembinaan dan pembangunan generasi muda ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Keputusan Menteri Pendidkan dan Kebudayaan nomor : 0323/U/1978 tanggal 28 oktober 1978. Tujuannya agar semua pihak yang turut serta dan berkepentingan dalam poenanganannya benar-benar menggunakannya sebagai pedoman sehingga pelaksanaanya dapat terarah, menyeluruh dan terpadu serta dapat mencapai sasaran dan tujuan yang dimaiksud.

Pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda disusun berlandaskan :

1.      Landasan Idiil                         : Pancasila

2.      Landasan Konstitusional        : Undang-undang dasar 1945

3.      Landasan Strategi                   : Garis-garis Besar Haluan Negara

4.      Landasan Histories                 : Sumpah Pemuda dan Proklamasi

5.      Landasan Normatif                 : Tata nilai ditengah masyarakat.

Motivasi asas pembinaan dan pengembangan generasi muda bertumpu pada strategi pencapaian tujuan nasional, seperti disebutkan dalam pembukaan UUD 1945 alinia IV.

Atas dasar kenyataan ini, diperlukan penataan kehidupan pemuda sehingga mereka mampu memainkan peranan yang penting dalam masa depan sekalipun disadari bahwa masa depan tersebut tidak berdiri sendiri. Masa depan adalah lanjutan masa sekarang, dan masa sekarang adalah hasil masa lampau. Dalam hal ini, pembinaan dan pengembangan generasi muda haruslah menanamkan motivasi kepekaan terhadap masa datang sebagai bagian mutlak masa kini. Kepekaan terhadap masa datang membutuhkan pula kepekaan terhadap situasi-situasi lingkungan untuk merelevansikan partisipannya dalam setiap kegiatan bangsa dan negara. Untuk itu, kualitas kesejahteraan yang membawa nilai-nilai dasar bangsa merupakan faktor penentu yang mewarnai pembinaan generasi muda dan bangsa dalam memasuki masa datang.

Tanpa ikut sertanya generasi muda, tujuan pembangunan ini sulit tercapai. Hal ini bukan saja karena pemuda merupakan lapisan masyarakat yang cukup besar, tetapi tanpa kegairahan dan kreativitas mereka, pembangunan jangka panjang dapat kehilangan keseimbangannya.

Apabila pemuda masa sekarang terpisah dari persoalan masyarakatnya, sulit terwujud pemimpin masa datang yang dapat memimpin bangsanya sendiri.

Dalam hal ini, pembinaan dan pengembangan generasi muda menyangkut dua pengertian pokok, yaitu :

1.      Generasi muda sebagai subjek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang telah memiliki bekal dan kemampuan serta landasan untuk  mandiri dan ketrlibatannya pun secara fungsional bersama potensi lainnya guna menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi bangsa.

2.      Generasi muda sebagai objek pembinaan dan pengembangan adalah mereka yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kea rah pertumbuhan potensi dan kemampuan ketingkat yang optimal dan belum dapat bersikap mandiri yang melibatkan secara fungsional.

B. Masalah dan Potensi Generasi Muda

1. Permasalahan Generasi Muda

Berbagai permasalahan generasi yang muncul pada saat ini antara lain :

a.       Menurunnya jiwa idealisme, patriotisme, dan nasionalisme dikalangan masyarakat, termasuk jiwa pemuda.

b.      Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.

c.       Belum seimbangnya antara jumlah generasi muda dengan fasilitas pendidikan yang tersedia, baik formal dan informal. Tinggimya jumlah putus sekolah yang tidak hanya merugikan generasi muda sendiri, tetapi juga merugikan bangsa.

d.      Kekurangan lapangan dan kesempatan kerja serta tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran dikalangan generasi muda mengakibatkan berkurangnya produktivitas nasional dan memperlambat kecepatan laju perkembangan pembangunan nasional serta dapat menimbulkan berbagai problem sosial lainnya.

e.       Kurangnya gizi yang menghambat perkembangan kecerdasan, dan pertumbuhan.

f.       Masih banyaknya perkawinan dibawah umur.

g.      Pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi moral bangsa.

h.      Merebaknya penggunaan NAPZA dikalangan remaja.

i.        Belum adanya peraturanm perundangan yang menyangkut generasi muda.

Dalam rangka memecahkan permasalahan generasi muda diatas, diperlukan usaha-usaha terpadu, terarah dan berencana dari seluruh potensi nasional dengan melibatkan generasi muda sebagai subjek pembangunan. Organisasi-organisasi pemuda yang telah berjalan baik merupakan potensi yang siap untuk dilibatkan dalam kegiatan pembangunan nasional.

2. Potensi-potensi Generasi Muda

Potensi-potensi yang terdapat pada generasi muda yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut :

a. Idealisme dan Daya Kritis

Secara sosiologis generasi muda belum mapan dalam tatanan yang ada, sehingga ia dapat melihat kekurangan dalam tatanan dan secara wajar mampu mencari gagasan baru. Pengejawantahan idealisme dan daya kritis perlu dilengkapi landasan rasa tanggung jawab yang seimbang.

b.      Dinamika dan Kreativitas

Adanya idealisme pada generasi muda, menyebabkan mereka memiliki potensi kedinamisan dan kreativitas, yakni kemampaun dan kesediaan untuk mengadakan perubahan, pembaharuan, dan penyempurnaan kekurangan yang ada ataupun mengemukakan gagasan yang baru.

c. Keberanian Mengambil Resiko

Perubahan dan pembaharuan termasuk pembangunan, mengandung resiko dapat meleset, terhambat atau gagal. Namun, mengambil resiko itu diperlukan jika ingin memperoleh kemajuan. Generasi muda dapat dilibatkan pada usaha-usaha yang mengandung resiko. Untuk itu diperlukan kesiapan pengetahuan, perhitungan, dan keterampilan dari generasi muda sehingga mampu memberi kualitas yang baik untuk berani mengambil resiko.

d. Optimis dan Kegairahan Semangat

Kegagalan tidak menyebabkan generasi muda patah semangat. Optimisme dan kegairahan semangat yang dimiliki generasi muda merupakan daya pendorong untuk mencoba lebih maju lagi.

e. Sikap Kemandirian dan Disiplin Murni

Generasi muda memiliki keinginan untuk selalu mandiri dalam sikap dan tindakannya. Sikap kemandirian itu perlu dilengkapi dengan kesadaran disiplin murni pada dirinya agar mereka dapat menyadari batas-batas yang wajar dan memiliki tenggang rasa.

f. Terdidik

Walaupun dengan memperhitungkan faktor putus sekolah, secara menyeluruh baik dalam arti kualitatif maupun dalam arti kuantitatif, generasi muda secara relatif lebih terpeljar karena lebih terbukanya kesempatan belajar dari generasi pendahulunya.

g. Keanekaragaman dalam Persatuan dan Kesatuan.

Keanekaragaman generasi muda merupakan cermin dari keanekaragaman masyarakat kita. Keanekaragaman tersebut dapat menjadi hambatan jika dihayati secara sempit dan eksklusif. Akan tetapi, keanekaragaman masyarakat Indonesia merupakan potensi dinamis dan kreatif jika ditempatka dalam kerangka integrasi nasional yang didasarkan pada semangat sumpah pemuda serta kesamaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

h. Patriotisme dan Nasionalisme

Pemupukan rasa kebanggaan, kecintaan, dan turut serta memiliki bangsa dan negara dikalangan generasi muda perlu digalakkan karena pada gilirannya akan mempertebal semangat pengabdian dan kesiapan mereka untuk membela dan mempertahankan NKRI dari segala bentuk ancaman. Dengan tekad dan semangat ini, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap usaha dan pemantapan ketahanan dan pertahanan nasional.

i. Sikap Kesatria

Kemurnian idealisme, keberanian, semangat pengabdian dan pengorbanan serta rasa tanggung jawab sosial yang tinngi adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk dan dikembangkan dikalangan generasi muda Indonesia sebagai pembela dan penegak kebenaran dan keadilan bagi masyarakat dan bangsa.

j. Kemampuan Penguasaan Ilmu dan Teknologi

Generasi muda dapat berperan secara berdaya guna dalam rangka pengembangan ilmu dan teknologi bila secara fungsional dapat dikembangkan sebagai Transformator dan Dinamisator terhadap lingkungannya yang lebih terbelakang dalam ilmu dan pendidilkan serta penerapan teknologi, baik yang maju, maupun yang sederhana.

KESIMPULAN

Masa depan suatu bangsa terletak di tangan pemuda atau generasi mudanya sebab merekalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa. Oleh karena itu, generasi muda perlu diberi bekal berupa ilmu pengetahuan yang sesuai dengan tuntutan zaman, serta tetap menjaga budaya bangsanya.

Pembangunan tidak akan berjalan dengan lancar, bila manusia-manusianya tidak mau giat bekerja. Oleh karena itu, pada hakikatnya pembangunan adalah penggantian yang lama dengan yang baru, yang telah diperhitungkan dengan keadaan sekitarnya, maka mahasiswa selaku generasi muda berkewajiban untuk ikut serta dalam derap pembangunan.

SARAN

Selaku generasi penerus bangsa, marilah kita berbuat dan selalu berbuat yang terbaik untuk bangsa kita. “Jangan tanyakan apa yang akan Negara berikan padamu, tapi tanyakan APA yang akan kamu berikan pada Bangsamu” .

“Kesempatan itu tidak ditunggu, tapi Diciptakan”, semua kesempatan itu hanya bisa diwujudkan melalui kreativitas dan inovasi dari generasi muda bangsa yang secara sadar menimba segala kemajuan ilmu dan teknologi, bagi bangsa, agama, keluarga dan dirinya sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Mawardi, Drs.,Hidayati, Ir. Nur, IAD-ISD-IBD,Pustaka Setia, Bandung, 2004

Sumber: forumsejawat.wordpress.com

Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Tawuran merupakan sebuah interaksi yang negatif dan berakibat sangat fatal. Tawuran kerap menjadi topik hangat di media masaa, baik dimedia Internet atau media lainnya. Lantas,  mengapa hal ini kerap terjadi dikalangan siswa atau Mahasiswa atau pemuda?. Hal yang wajar ketika orang bilang bahwa “darah muda” sehingga ketika ada konflik, maka akan terpancing emosi. Sehingga, menimbulkan masalah  yang menjadi dilema untuk kita. Tapi, tidak hanya itu yang menyebabkan tawuran yang terjadi dikalangan pemuda. Peran berbagai pihak perlu untuk mengatasi ini, tidak cukup hanya satu jari, melainkan 10 jari untuk mengajari atau membina mereka untuk mejadi pribadi yang baik, menjadi teladan dalam masyarakat dan mempunyai budi pekerti. Artinya, masalah tawuran bukanlah hal dan persoalan yang sepele. Kita pasti sering mendengar diberita “terjadi tawuran antara sekolah A dengan sekolah B” atau tawuran antara Geng A vs Geng B.

         Sungguh miris mendengar hal itu, apalagi sampai-sampai menjatuhkan korban yang berakhir dengan keterpurukan generasi muda Indonesia. Tawuran terjadi akibat salah satu pihak yang terkait merasa dirugikan,dicemohkeegoisan, kurang akan kecerdasan emosional, sikap fanatik yang berlebihan, misal ( tawuran atau ribut terjadi ketika klub bola A menang, dan B kalah akan tetapi pendukung bola B tida terima, dan berusaha mencari celah dan mencari masalah yang menimbulkan keributan), adanya perbedaan tujuan, ataupun  kepentingan , sehingga timbullah konflik yang berujung dengan Tawuran/Bentrok. Nah, hal inilah yang perlu dicegah dan segera diatasi . Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita ketahui  dalam mencegah dan menaggulangi tawuran .
Bagaimana Cara Mencegah Tawuran tersebut?
1. Pengontrolan yang terbagi dalam beberapa hal:
           Kaum muda saat ini lebih bebas dalam bergaul, apalagi saat ini IPTEK sudah berkembang secara global, keuntungannya adalah mempermudah anak didik untuk mengakses informasi dan pengetahuan . Akan tetapi , media juga mempunyai pengaruh negatif terhadap anak didik yang dapat mengubah perilaku, pola hidup dan cara bergaulnya. Nah, untuk itu perlu dilakukan pengontrolan untuk mengantisipasi hal-hal mendasar yang mengakibatkan tindakan yang fatal. Misalnya , mengontrol cara bergaul keseharian, mengontrol media atau fasilitas yang digunakan agar tidak salah fungsi atau tepat sesuia pada penggunaanya.
      Peran keluarga, terkhususnya orang tua sangatlah penting , yaitu memberikan teladan bagi anak-anaknya. dan menjadi sumber solusi yang tepat untuk anaknya, sebab tidak ada orang tua yang ingin anakanya terjerumus. Maka orang tua juga harus melakukan tindakan antisipatif terhadap anak-anaknya. Termasuk melihat perkembangan emosional,intelektual, ataupun spiritual anak. Hal yang tidak kalah penting adalah komunikasi, sebab komunikasi adalah jembatan untuk melakukan pengontrolan terhadap anak. Baik komunikasi orang tua/keluarga terhadap anak, ataupun Orang tua terhadap sekolah.
         Peran Sekolah, Sekolah juga bisa dikatakan sebagai pengontrol dan sekolah merupakan tempat menimba Ilmu. Disekolah, yang menjadi orang-tua anak didik  adalah guru. Guru mentransfer ilmu yang ada padaNya, dan diberikan kepada anak didik untuk menjadi bekal bagi anak didik. Baik itu mental, kerangka berpikir, intelektual, kedisiplinan, mengasah otak dan memberikan bahan pelajaran yang komunikatif, relevan, dan tidak terkesan monoton. Sekolah juga memberikan tempat bagi anak didik untuk mengasah minat atau bakat yang mereka miliki , misalnya  pada akhir pekan khusus untuk kegiatan ekstrakurikuler, pramuka, outbond, atau kegiatan yang bermanfaat lainnya.  Sehingga tidak menimbulkan kebosanan disekolah dan dapat mengantisipasi bolos sekolah , atau membuat onar serta  tindakan-tindakan yang memicu konflik , atau sebut saja tawuran.  Juga, sekolah bisa membuat suatu kegiatan atau seminar tentang dampak  negatif dari aksi bentrok atau tawuran, serta memberikan motivasi kepada pelajar/mahasiswa khususnya, untuk menggapai prestasi yang gemilang.
         Peran Masyarakat, masyarakat juga berperan sebagai pengontrol, yang mana masyarakat juga tidak ingin terganggu akibat tawuran yang terjadi. Maka, warga/masyarakat ikut berperan untuk mencegah tawuran, misalnya ketika ada perkelahian antara pelajar segera melerai dan meminta bantuan pengaman setempat. Tindakan lainnya adalah mempererat hubungan antara masyarakat, apalagi dalam wilayah tersebut cukup majemuk terdapat berbagi ras, agama, atau suku. Misalnya mengadakan lomba persahabatan, lomba kebersihan, bakti sosial ataun acara kebudayaan yang diperankan oleh Pemuda/i untuk menanmkan kembali sikap luhur dan disiplin nenek moyang yang mendahului kita.
        Peran Penegak hukum, hukum merupakan penegak keadilan. Hukum yang berbicara ketika terjadi masalha yang fatal atau yang harus selesai denga jalur hukum, akan tetapi hukum juga mempunyai peran untuk mengantisipasi tawuran, misalnya melakukan pemberitahuan kesekolah-sekolah, slogan di sekolah, di media, di fasilitas umum, dan memberikan contoh yang baik. Tidak hanya itu, aparat hukum juga mendekatkan diri dengan pemuda/i  dengan berintekasi atau membagun komunikasi yang baik.
      Peran Agama, yakni agama bisa dikatakan pundasi kehidupan kita menganut agama serta berdoa sesuai kepercayaan masing-masing. Walu berbeda agama, tapi 1 Pencipta, yakni Allah/Tuhan. Kita dariNya dan kembali padaNya. Untuk itu, dengan beragama, diharapkan mampu menjadi bekal / ilmu  untuk menjadi pribadi yang teguh dan memberikan pengarahan terkusunya kaum muda bahwa tawuran bukanlah tindakan yang benar. Menerapkan sikap toleransi atau mengalah untuk kedamaian serta kepentingan bersama.
     Peran Pemerintah , Peran pemerintah sebagai pengontrol sekolah, atau pengaman apakah telah menjalankan fungsi atau tugas serta kewenagannya untuk kesejahteraan masyarakat
 2. Menanggulangi Tawuran
Tawuran sangat meresahkan warga dan berakibat fatal karena identik dengan kekerasan, sikap fanatisme dan sebahagian pemuda/i yang ikut-ikutan akibat terpengaruh dari teman-teman lainnya. Untuk itu pemuda/i perlu dibekali persiapan yang kuat, apalagi hidup di daerah perkotaan. Untuk itu ada beberapa hal yang menurut saya perlu dilakukan dalam menanggulangi Tawuran, yakni :
1.Melakukan Identifikasi atau yang melatarbelakangi mengapa konflik terjadi sehingga terjadi keributan/tawuran.
2. Melakukan tindakan perdamaian oleh kubu yang bersangkutan.Mendamaikan kondisi dan situasi pemuda-pemudi yang terjadi tawuran.
3.Memanggil pihak terkait yang melakukan tawuran oleh pihak aparat hukum, misalnya sekolah, orang-tua, serta melakukan penyidikan dari permasalahan yang timbul, bukan mencari siapa yang salah tapi mencari jalan tengah untuk kebaikan bersama.
4. Memberikan peringatan bagi kedua kubu, untuk tidak melakukan hal yang berakibat  fatal tersebut. Apabila dikemudian hari masih terjadi , polisi/ pihat keamanan yang berwajib bisa melakukan tindakan yang hukum yang lain.
5. Mencari Win-win Solution bukan mencari win – loss solution, agar tidak ada pihak yang merasa disalahkan ataupun dirugikan . Ingat, kekerasan bukanlah jawaban , untuk itu katakanlah tidak pada kekerasan .
6. Apbila masih terjadi, alternatif lainnya adalah dengan melakukan mediasi, atau rekonsiliasi untuk mecapai titk temu dan perdamaian.
Sumber: pagemenu.blogspot.com

Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda Melalui Karang Taruna

Oleh : Drs. ASEP TATANG ISKANDAR

I. PENDAHULUAN
Generasi merupakan generasi penerus perjuangan bangsa dan sumber daya insani bagi pembangunan nasional, diharapkan mampu memikul tugas dan tanggung jawab untuk kelestarian kahidupan bangsa dan negara. Untuk itu generasi muda perlu mendapatkan perhatian khusus dan kesempatan yang seluas?luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik jasmani, rohani maupun sosialnya.

Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, terdapat generasi muda yang menyandang permasalahan sosial seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan obat dan narkota, anak jalanan dan sebagainya baik yang disebabkan oleh faktor dari dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Oleh karena itu perlu adanya upaya, program dan kegiatan yang secara terus menerus melibatkan peran serta semua pihak baik keluarga, lembaga pendidikan, organisasi pemuda, masyarakat dan terutama generasi muda itu sendiri.

Arah kebijakan pembinaan generasi muda dalam pembangunan nasional menggariskan bahwa pembinaan perlu dilakukan dengan mengembangkan suasana kepemudaan yang sehat dan tanggap terhadap pembangunan masa depan, sehingga akan meningkatkan pemuda yang berdaya guna dan berhasil guna. Dalam hubungan itu perlu dimantapkan fungsi dan peranan wadah?wadah kepemudaan seperti KNPI, Pramuka, Karang Taruna, Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Organisasi Mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi dan organisasi fungsional pemuda lainnya.

Dalam kebijakan tersebut terlihat bahwa KARANG TARUNA secara ekslpisit merupakan wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda yang bertujuan untuk mewujudkan generasi muda aktif dalam pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan bidang kesejahteraan sosial pada khususnya.

Salah satu kegiatan Karang Taruna Kelurahan Purwaharja Kecamatan Purwaharja sedang membuat kerajinan bambu yang diolah menjadi aneka macam alat musik seperti suling, angklung dan sebagainya.

II. PROBLEMATIK GENERASI MUDA
Sebagaimana dikemukakan di atas, generasi muda dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya menghadapi berbagai permasalahan yang perlu diupayakan penanggulangannya dengan melibatkan semua pihak.

Permasalahan umum yang dihadapi oleh generasi muda di Indonesia dewasa ini antara lain sebagai berikut :
1. Terbatasnya lapangan kerja yang tersedia. Dengan adanya pengangguran dapat merupakan beban bagi keluarga maupun negara sehingga dapat menimbulkan permasalahan lainnya.
2. Penyalahgunaan Obat Narkotika dan Zat Adiktif lainnya yang merusak fisik dan mental bangsa.
3. Masih adanya anak-anak yang hidup menggelandang.
4. Pergaulan bebas diantara muda-mudi yang menunjukkan gejala penyimpangan perilaku (Deviant behavior).
5. Masuknya budaya barat (Westernisasi Culture) yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita yang dapat merusak mental generasi muda.
6. Perkawinan dibawah umur yang masih banyak dilakukan oleh golongan masyarakat, terutama di pedesaan.
7. Masih merajalelanya kenakalan remaja dan permasalahan lainnya.

Permasalahan tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan jaman apabila tidak diupayakan pemecahannya oleh semua pihak termasuk organisasi masyarakat, diantaranya KARANG TARUNA .

Salah satu kegiatan Karang Taruna Kelurahan Hegarsari Kecamatan Pataruman yang merupakan Karang Taruna berprestasi dalam bidang Perbengkelan.

III. KARANG TARUNA SEBAGAI WADAH PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN GENERASI MUDA
Karang Taruna sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Sosial RI No. 83/HUK/2005 adalah ?Organisasi Sosial wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat terutama generasi muda di wilayah Desa/Kelurahan atau komunitas sederajat dan terutama bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial?. Sedangkan keanggotannya bersifat stelsel pasif, artinya seluruh generasi muda dalam lingkungan Desa/Kelurahan atau komunitas adat sederajat yang bersusia 11 tahun sampai 45 tahun yang selanjutnya disebut Warga Karang Taruna.

Dengan adanya Karang Taruna dimaksudkan sebagai wadah untuk menampung aspirasi masyarakat, khususnya generasi muda dalam rangka mewujudkan rasa kesadaran dan tanggung jawab sosial terhadap masyarakat pada umumnya. Tujuannya tidak lain adalah terwujudnya kesejahteraan sosial yang semakin meningkat bagi generasi muda di Desa/Kelurahan yang memungkinkan pelaksanaan fungsionalnya sebagai manusia pembangunan yang mampu mengatasi masalah kesejahteraan sosial di lingkungannya melalui usaha-usaha pencegahan, pelayanan dan pengembangan sosial.

Dengan demikian jelas bahwa sasaran yang ingin dicapai oleh KARANG TARUNA dititikberatkan pada kesadaran dan tanggung jawab sosial, sehingga dapat mewujudkan dengan baik kesejahteraan sosial yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat.

Untuk mencapai sasaran tersebut, maka tugas pokok Karang Taruna adalah bersama-sama dengan pemerintah dan komponen masyarakat lainnya untuk menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial terutama yang dihadapi generasi muda, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.

Sejalan dengan tugas pokok di atas, Karang Taruna melaksanakan fungsi-fungsi sebagai berikut :
1. Penyelenggara usaha kesejahteraan sosial
2. Penyelenggara pendidikan dan pelatihan bagi masyarakat
3. Penyelenggara pemberdayaan masyarakat terutama generasi muda di lingkungannya secara komprehensif, terpadu dan terarah serta berkesinambungan
4. Penyelenggaraan kegiatan pengembangan jiwa kewirausahaan bagi generasi muda di lingkungannya
5. Penanaman pengertian, memupuk dan meingkatkan kesadaran tanggung jawab sosial generasi muda
6. Penumbuhan dan pengembangan semangat kebersamaan, jiwa kekeluargaan, kesetiakawanan sosial dan memperkuat nilai-nilai kearifan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
7. Pemupukan kreatifitas generasi muda untuk dapat mengembangkan tanggung jawab sosial yang bersifat rekreatif, kreatif, edukatif, ekonomis produktif dan kegiatan praktis lainnya dengan mendayagunakan segala sumber dan potensi di lingkungannya secara berswadaya
8. Penyelenggaraan rujukan, pendamping dan advokasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial
9. Penguatan sistim jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kemitraan dengan berbagai sektor lainnya
10. Penyelenggaraan usaha-usaha pencegahan permasalahan sosial yang aktual.

Dengan melihat fungsi-fungsi di atas, terlihat bahwa kegiatan Karang Taruna diarahkan untuk menciptakan watak yang taqwa, terampil dan dinamis serta penanaman kesadaran dan tanggung jawab sosial yang tinggi.

Kesadaran dan tanggungjawab sosial yang tinggi pada gilirannya akan menumbuhkan disiplin sosial dalam kehidupan pribadi dan kelompok sehingga menjadikan generasi muda memiliki kesiapan dalam menanggulangi berbagai masalah sosial dilingkungannya. Jadi pembinaan disini selain dapat menolong generas muda itu sendiri, juga dapat menolong orang lain yang menyandang masalah sosial.

Sedangkan yang menjadi sasaran kualitatif yang hendak dicapai dalam pembinaan Karang Taruna adalah :
1. Karang Taruna sebagai wadah pembinaan generasi muda ditingkat Desa dan Kelurahan mampu berperan sebagai organisasi sosial kepemudaan dalam mencegah kenakalan remaja.
2. Karang Taruna mampu menjadi wadah penyiapan kepeloporan dan kemandirian.
3. Karang Taruna menjadi wadah penyelenggara usaha-usaha ekonomi produktif.
4. Karang Taruna diharapkan mampu menggali dan memanfaatkan potensi-potensi kesejahteraan sosial secara berdaya guna dan berhasil guna.

Dalam pengembangannya, Karang Taruna dapat membentuk Unit Teknis sesuai dengan kebutuhann pengembangan organisasi dan program. Unit Teknis dimaksud merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kelembagaan Karang Taruna dan pembentukannya harus melalui mekanisme pengambilan keputusan dalam forum yang refresentatif dan sesuai kapasitasnya. Untuk itu, sebagai contoh Unit Perbengkelan, Unit Peternakan, Unit Perikanan, Unit Pertukangan dan sebagainya.

IV. PERKEMBANGAN KARANG TARUNA DI KOTA BANJAR
Sejak tahun 2004 ? 2007, Pemerintah Kota Banjar melalui Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrsi telah melaksanaan pembinaan dan pengembangan generasi muda melalui Karang Taruna pada 24 Desa/Kelurahan yang ada di wilayah Kota Banjar, baik yang pendanaannya bersumber dari APBD Kota, APBD Provinsi dan APBN. Pembinaan tersebut berbentuk pelatihan, bimbingan dan bantuan usaha ekonomis produktif (UEP) .

Untuk kegiatan pelatihan/bimbingan yang telah dilaksanakan, yaitu :
1. Pelatihan manajemen : 7 Karang Taruna
2. Pelatihan Kewirausahaan : 1 Karang Taruna
3. Pelatihan Sosialisasi Sumbangan Sosial : 1 Karang Taruna

Sedangkan untuk bantuan usaha ekonomis proiduktif (UEP) sebagai berikut :
1. APBD Kota : 24 Karang Taruna
2. ABPD Provinsi : 2 Karang Taruna
3. APBN : 6 Karang Taruna
Untuk Karang Taruna yang telah mendapatkan bantuan sarana olah raga dan pakaian seragam sebanyak 8 buah.

Jenis usaha ekonomis produktif (UEP) yang dikembangkan dan dikelola generasi muda melalui Karang Taruna, diantaranya bengkel motor, kerajinan anyaman, perikanan, pembuatan paving block, pembuatan pot bunga, jamur merang, ternak domba dan sebagainya yang dihimpun dalam bentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE).

Untuk memantapkan komunikasi, kerjasama, pertukaran informasi dan kolaborasi diantara Karang Taruna dalam rangka pembinaan dan pengembangan generasi muda yang ada di Kota Banjar, telah dibentuk Forum Komunikasi Karang Taruna (FKKT) di Tingkat Kecamatan dan FKKT Tingkat Kota dan menurut Peraturan Menteri Sosial RI Nomor: 83/HUK/2005 tentang Pedoman Dasar Karang Taruna, FKKT Tingkat Kecamatan diganti dengan Karang Taruna Kecamatan dan FKKT Tingkat Kota diganti menjadi Karang Taruna Kota. Untuk Karang Taruna Kecamatan dan Kota masa baktinya selama 5 tahun, yang dikukuhkan oleh Camat untuk Karang Taruna Kecamatan dan dikukuhkan oleh Walikota untuk Karang Taruna Kota. Sedang untuk Karang Taruna Desa/Kelurahan masa baktinya selama 3 tahun yang dikukuhkan oleh Kepala Desa/Lurah setempat.

Kegiatan Usaha Ekonomis Produktif (UEP) Karang Taruna di Bidang Kerajinan Bambu

VI. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dapat kami simpulkan sebagai berikut :
1. Bahwa sesungguhnya pembinaan dan pengembangan generasi muda harus dimulai tahap yang sangat dini baik oleh keluarga, lembaga pendidikan dan lingkungan masyarakat pada umumnya .
2. Bahwa pembinaan dan pengembangan muda bukan hanya memerlukan pendidikan fisik saja, melainkan pembinaan mental dan sosialnya.
3. Karang Taruna merupakan lingkungan pendidikan ke tiga diluar keluarga dan sekolah dalam menyelenggarakan pembinaan dan bimbingan sosial bagi generasi muda yang ada di lingkungan Desa/Kelurahan.
4. Karang Taruna sebagai lembaga sosialisasi (socialization institution) dan merupakan pilar partisipasi sosial masyarakat, khususnya generasi muda dalam pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan kesejahteraan sosial pada khususnya.

Dengan demikian Karang Taruna mempunyai peranan dan posisi yang strategis dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda yang merupakan harapan bangsa dan menentukan masa depan bangsa.. Semoga terwujud*** (banjar-jabar.go.id)

————-

Penulis adalah Social Worker Alumni STKS Bandung, mantan Pembina Forum Komunikasi Karang Taruna (FKKT) dan Pengurus DPD KNPI Kab. Barito Utara Provinsi Kalimantan Tengah, sekarang bekerja sebagai Kepala Seksi Transmigrasi pada Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Banjar.-

Pembinaan Pemuda , Investasi Masa Depan

Bangsa kita yang multietnis dan multikultural sangat membutuhkan sikap setiap individu dan kelompok untuk mampu meredam perbedaan menjadi suatu kebersamaan tanpa melunturkan akidah yang tumbuh dalam iman setiap insan. Sikap ini merupakan keutamaan yang wajib diimplementasikan dalam kehidupan sebagai bangsa. Cita-cita dan idea inilah yang mendasari tercetusnya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Dalam janji setia yang dideklarasikan oleh perwakilan seluruh pemuda Indonesia saat itu, disepakati untuk berbangsa satu, bertumpah darah satu, dan berbahasa satu: Indonesia.

Semangat nasionalisme dalam kurun waktu sepuluh windu (80 tahun) mengalami pasang surut. Interaksi global yang mengeksploitasi berbagai ideologi dan kultur manca negara, hampir tidak pernah rehat, merongrong kedigdayaan Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Akan tetapi bangsa kita masih teguh untuk senantiasa melakukan reaktualisasi semangat Sumpah Pemuda dengan berbagai makna, namun tegas tujuannya yakni bertekad menjaga integritas, martabat dan jati diri bangsa di tengah interaksi global.

Sumpah Pemuda telah memberikan semangat dan motivasi baru bagi berbagai generasi kita untuk menjadikan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat. Maka perlu setiap saat kita mengingatkan betapa dalam makna yang yang terkandung, khususnya terkait peranan generasi muda dalam menyongsong globalisasi segala dimensi dengan era keterbukaan yang tanpa batas. Rekontruksi dan reaktualisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda, memang sudah selayaknya bahkan menjadi keharusan. Dengan demikian, berarti kalangan generasi masa kini perlu menggali kembali karakter semangat nasionalisme yang dimiliki kalangan pemuda yang menggagas Sumpah Pemuda untuk meraih kemerdekaan.

Potensi Pemuda  di Daerah-daerah

Hampir di seluruh daerah, tokoh-tokoh muda bermunculan. Mereka menggembol  jutaan semangat dan tekad untuk mengabdikan diri bagi masyarakat, rakyat dan bangsa Indonesia. Di setiap daerah, lebih dari 80% anggota legeslatif menyandang predikat pemuda baik secara fakta fisik maupun semangat dan usianya. Sementara di jajaran birokrat serta kalangan pendidikan pun tidak kurang dari 80% ternyata adalah para muda usia. Mereka adalah tokoh-tokoh muda yang mampu eksis dan mengaktualisasikan kinerja di tengah persaingan yang makin tidak terbatas.
Elemen pemuda di luar sistem pemerintahan, yakni yang hidup dan berkirprah dalam keseharian masyarakat awam, dalam lembaga-lembaga  swasta,  juga menunjukkan regenerasi yang makin berkualitas. Berbagai aktivitas, kreativitas dan produktivitas mereka ejawantahkan dalam karya-karya positif, untuk disajikan bagi kemaslahatan lingkungan dan kesejahteraan sesama. Bahkan dengan tanpa mengenal rasa takut, bila mereka menyaksikan kebijakan yang tidak pro-rakyat atau tindakan yang mengancam kelestarian lingkungan, pemuda-pemuda ini dengan segera menentangnya!
Potensi pemuda di daerah harus diakui, tiada pernah terhenti. Setiap generasi akan selalu silih berganti. Dan mereka terlahir dari semua etnis, kultur dan keyakinan. Namun harus digaris bawahi, bahwa mereka sebagian besar terlahir dari keluarga yang memiliki taraf sosial ekonomi yang  memerlukan dukungan pihak ketiga. Secara finansial, seharusnya untuk menunjang aktivitas dan prouktivitas mereka, serta mengarahkan agar dinamika mereka tidak diwarnai kedaerahan, etnis dan kultural, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah senantiasa menggelontorkan budget APBN/APBD yang lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Lunturnya Nilai-nilai Persatuan dan Kesatuan

Bangsa yang besar merupakan bangsa yang mengenal dan tidak melupakan sejarah. Kalangan generasi masa kini perlu menggali kembali karakter semangat nasionalisme yang dimiliki kalangan pemuda yang menggagas Sumpah Pemuda untuk meraih kemerdekaan dalam sebuah semangat persatuan dan kesatuan. Pemuda tidak boleh melupakan sejarah agar dapat menjadi pelajaran di masa mendatang. Dan sekali lagi, peran aktif dari pemerintah menjadi faktor prima untuk memacu dan memicu mereka.
Arwah para pahlawan Kemerdekaan tentunya merasa gelisah dengan kondisi yang berkembang dewasa ini, apabila menyaksikan mulai lunturnya nilai-nilai semangat persatuan dan kesatuan yang menjjurus hilangnya nasionalisme di kalangan generasi muda. Dikhawatirkan melunturnya rasa nasionalisme itu akan menyebabkan kalangan generasi muda tidak lagi menghargai jasa pahlawan, bahkan nilai kebangsaan dan kemerdekaan bangsa.

Indikasi ke arah itu mulai terlihat dari berkurangnya masyarakat yang bersedia mengibarkan Sang Saka Dwi Warna dalam peringatan hari-hari besar nasional utamanya menjelang dan saat HUT Kemerdekaan RI yang diperingati setiap 17 Agustus. Sementara perseteruan antar etnis dan kultur masyarakat menggejala, meluncur tajam mengarah pada perselisihan yang mungkin bisa berujung penolakan terhadap NKRI.
Oleh sebab itu, perlu adanya langkah-langkah yang positif, kebijakan yang produktif dan efektif untuk menanggulangi berbagai kemungkinan tersebut. Solusi untuk tetap mempertahankan nilai-nilai kebudayaan dan tradisi daerah, adalah salah satu keputusan yang sangat tepat. Sebab, tidak bisa dipungkiri sama sekali bahwa Pancasila dan rumusan Proklamasi 17 Agustus 1945, merupakan kesepakatan bangsa kita yang lahir dari sana.

Pembinaan pemuda sejak usia belasan harus dioptimalkan dengan mengabaikan kalkulasi budget. Upaya mengimplementasikan nilai-nilai budaya dan tradisi dalam gegap gempitanya kiprah pemuda, wajib senantiasa dibarengi dengan genderang mempertahankan berbagai dimensi dan variasi kesenian, kebudayaan, dan nilai-nilai normatif serta obyek-obyek wisata tradisi yang selama ini telah membesarkan nenek moyang kita. Dukungan dana hibah yang bersumber dari APBN maupun APBD sungguh-sungguh digelontorkan pada setiap SKPD tanpa filter yang “neko-neko”. Penggelontoran dana untuk menggalakkan obyek wisata budaya dan sejarah di daerah-daerah bisa langsung menjadi income. Berbeda dengan pembinaan generasi muda baik langsung maupun melalui upaya  melestarikan kesenian, kebudayaan dan nilai-nilai tradisional, bukanlah kegiatan yang seketika bisa dinikmati buahnya. Melainkan sebuah investasi masa depan yang berujung kemegahan, kemuliaan dan kedigdayaan bangsa dan negara.

Sumber: sosbud.kompasiana.com | Oleh: Maksum

Mahasiswa Tradisional vs Mahasiswa Modern

Ketika kita berbicara tentang Mahasiswa, mungkin yang terbesit dalam pikiran kita adalah suatu agen perubahan bangsa atau aset penerus generasi bangsa atau mungkin yang dikenal dengan kaum intelektual, serta kaum pembaharu. Berbagai cap yang tertuju pada Mahasiswa seperti yang telah disebutkan tadi, boleh jadi ada benarnya juga. Mengapa demikian? karena kalau kita mau mengkaji lebih dalam itulah sesungguhnya yang menjadi fungsi sekaligus hakikat dari apa yang disebut sebagai Mahasiswa. Harapan yang sangat besar tak hanya tertanam bagi bangsa, dan segenap elemen masyarakat Indonesia tetapi juga bagi para pendahulu-pendahulu kita yang lebih dulu hidup di dunia ini, yang mana mereka telah mengorbankan segala energi pikirannya, fisiknya, spiritualnya hanya untuk kemajuan, kemerdekaan dan kesejahteraan para generasi penerusnya. Fakta yang nampak kepermukaan sekarang ini ialah justru mulai ada kemrosotan terhadap fungsi dan hakikat dari apa yang dikatakan Mahasiswa, terkhusus di Indonesia ini. Kini pergeseran-pergeseran nilai-nilai kemahasiswaan perlahan mulai terlihat jelas memudar seiring perputaran zaman.

Apabila kita lakukan kilas balik terhadap peranan mahasiswa di masa-masa terdahulu, anggaplah kita sebut mahasiswa demikian sebagai mahasiswa tradisional, dimana di zamannya mereka menuntut ilmu, kecanggihan teknologi masih dalam tahap pertumbuhan. Namun semangat dari para Mahasiswa Tradisional tersebut sangatlah menggebu-gebu dalam mengenyam ilmu pendidikan, sehingga dampaknya/hasilnya pun begitu kentara, seperti halnya yang kini telah menjadi tokoh bangsa ini, yakni ada Bapak Ir. BJ Habibie (tokoh teknologi Indonesia), Ir. Soekarno (tokoh politik/diplomatis Indonesia), Drs. Moh.Hatta (tokoh ekonomi sekaligus politik / Bapak Koperasi Indonesia), dan juga tokoh-tokoh lainnya yang masih banyak lagi. Mereka yang dulunya berpredikat sebagai Mahasiswa kini telah memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Bagaimana halnya dengan predikat sebagai mahasiswa modern? kita katakan mahasiswa modern bukanlah karena cara berfikirnya yang modern tetapi lebih kepada situasi atau perkembangan zaman yang telah menjadi modern. Di masa globalisasi sekarang ini memang begitu banyak input yang dapat masuk kedalam jati diri mahasiswa, tinggal mahasiswa itu bisa memilih mana input yang baik dan mana input yang buruk. Godaan disertai dengan tekanan yang sangat kuat terkadang membuat kebanyakan mahasiswa justru terlena dengan kemewahan-kemewahan yang ditawarkan oleh zaman globalisasi ini. Mereka seolah telah terhipnotis untuk kemudian melupakan hakikat inti dari predikat mahasiswa yang disandangnya. Modernisasi tak sedikit telah menyelimuti tubuh mahasiswa bangsa ini, mahasiswa kekinian telah terjebak oleh gaya hedonisme, rasa ego yang tinggi, sampai kepada apatis.

Hal ini jelas sangat mengendurkan nilai-nilai kemahasiswaan, sebagai agen of change seharusnya mahasiswa mampu memfilter kebudayaan-kebudayaan asing yang senantiasa merayu, karena sungguh kebudayaan negatif seperti halnya hedonisme, egoisme, apatisme bukanlah karakter bangsa, bukanlah kebudayaan mahasiswa-mahasiswa terdahulu yang telah banyak berkontribusi, melainkan mereka-mereka yang lebih dulu berpredikat mahasiswa (mahasiswa tradisional) betapa sangat berasaskan kesederhanaan, tidak mementingkan diri sendiri, dan terpenting ialah memiliki rasa prihatin dan kepedulian yang teramat tinggi, tidak hanya untuk dirinya, keluarganya, kerabatnya, kampungnya tetapi juga bagi tanah air tercinta ini – Republik Indonesia, yang mampu meraih kemerdekaan dengan begitu banyakknya pengorbanan para pejuang-pejuang terdahulu yang terhitung jumlahnya.

Oleh karenaya, adalah mesti ! bagi mahasiswa yang hidup dalam arus modern ini mampu menyaring kebudayaan negatif yang menyelusup serta senantiasa kembali menumbuhkan karakter bangsa yang unggul, karakter anak bangsa yang begitu prihatin akan kelangsungan dan kemajuan hidup Bangsa Indonesia ini. Globalisasi sudah terlanjur terjadi, namun mari kita jadikan Globalisasi ini sebagai semangat sekaligus tantangan hidup untuk beradaptasi serta mampu mengendalikan globalisasi ini, bukan malah menjadi budak dari globalisasi. Merdeka Indonesia ku . Amin.

Citayam, 04 june 2011
Septian Prima Rusbariandi
Student Department of Management-Faculty of Economics

Sumber: septian99.wordpress.com

Paradigma Gerakan Mahasiswa

Mahasiswa merupakan suatu elemen masyarakat yang unik. Jumlahnya tidak banyak namun sejarah menunjukkan bahwa dinamika bangsa ini tak lepas dari peran mahasiswa. Walaupun jaman terus bergerak dan berubah, namun tetap ada yang tidak berubah dari mahasiswa yaitu semangat dan idealisme. Semangat yang mendasari perbuatan untuk melakukan perubahan-perubahan atas ketidakadilan yang terjadi. Mimpi-mimpi besar akan bangsanya. Intuisi dan hati kecilnya akan selalu menyerukan idealisme. Mahasiswa tahu, ia harus berbuat sesuatu untuk masyarakat, bangsa dan negaranya. Sejarah mencatat perjuangan mahasiswa dalam memerangi ketidakadilan. Sejarah juga mencatat bahwa perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari mahasiswa dan dari pergerakan mahasiswa akan muncul tokoh dan pemimpin bangsa. Bila menilik ke belakang, kebangkitan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan belanda dimotori oleh para mahasiswa kedokteran STOVIA. Demikian juga dengan Soekarno yang merupakan tokoh pergerakan mahasiswa. Ketika pemerintahan Bung Karno labil karena situasi politik yang panas tahun 1966, mahasiswa tampil ke depan memberikan semangat yang akhirnya melahirkan orde baru. Setelah itu jaman reformasi yang meruntuhkan hegemoni orde baru. Demikianlah perjuangan mahasiswa dalam memerangi ketidakadilan, namun perubahan era jaman yang terjadi akan menuntut cara perubahan dalam berpikir dan bertindak sesuai perkembangan jaman yang ada.

Aktivis mahasiswa saat ini sebagian masuk ke dalam pusaran kuasa dan kepentingan politik, menandakan lemahnya karakter karena terwarnai oleh kekuatan sosial lain. Justru pergerakan mahasiswa lebih banyak terlihat dengan pola sama, pola anarkis, kritis tapi tidak konstruktif. Hal itu terlihat dengan aksi di Bima dan aksi Makassar 2010-2012 yang memperlihatkan model pergerakan yang sama, model anarkis namun miskin gagasan progresif. Tak dapat dipungkiri pula pengaruh media massa yang mendramatisir kejadian menjadikan pola tersebut banyak dimaknai berbeda oleh masyarakat. Tanpa ide dan karakter, penyatuan gerakan mahasiswa tidak mungkin terjadi, karena setiap elemen kepemudaan masing-masing memiliki ideologi dan warna gerakan yang dianutnya.

Akibatnya konsolidasi jadi mentah. Saat ini terjadi romantisme historis di antara mahasiswa, sebagian mahasiswa masih terjebak dalam rona pesona masa lalu namun gagal melihat hari ini dan masa depan. Terlihat dari pola fikir mahasiswa yang terlalu umum dan sukar mengukurnya. Pergulatan aktivis masih sebatas epistemologi politik dan gerakan serta terlalu banyak menguasai konsep namun tidak satupun yang berhasil diaplikasi dalam spesifikasi keilmuan. Padahal arah baru zaman ini adalah profesionalitas dan entrepreneurship. Hari ini, berfikiran politik memang baik namun akan kerepotan sebab orang-orang yang akan mengisi ruang publik hari ini ke depan adalah kaum profesional dan enterpreneur. Lihatlah beberapa orang yang menguasai partai politik, Ical ketua Golkar pengusaha, Nasdem ada Surya Paloh dan group pengusaha MNC. Ada pula yang aktivis menjadi ketua Partai yakni PKB Muhaemin Iskandar dan Demokrat Anas Urbaningrum namun partai yang dipimpinnya seakan mulai berantakan.

Ini merupakan isyarat zaman, tanda yang harus dijiwai dan dimaknai agar mampu menangkap perubahan yang terjadi di negeri ini sebagai sebuah takdir sejarah. Pada aspek lain, mahasiswa atau aktivis gagal membangun kepemimpinan yang sehat, terlihat saat ada demonstrasi merespon kebijakan kenaikan BBM namun sebagian besar mahasiswa lewat KNPI diisukan ke China, kemudian mahasiswa secara internal terjadi konflik yang gagal diterapi secara bijak sehingga membuat lembaga keropos dengan sendirinya. Bagaimana mungkin bisa mengkonsolidasi jika di internal karut marut. Apa yang dijelaskan Abraham Maslow bahwa “kebutuhan manusia betingkat-tingkat, mulai kebutuhan pangan, sandang, papan, kebutuhan rasa aman, sampai kebutuhan akan rasa cinta, pengabdian dan kehormatan memberikan kita gambaran tahapan penting bahwa kebutuhan dasar jika gagal diraih maka tidak mungkin bisa melompat pada kebutuhan selanjutnya.” Tidak mungkin seorang yang kelaparan akan berbicara keamanan sebelum dia memperoleh makanan karena itu adalah hukum kebutuhan.

Sama halnya aktivis mana mungkin membangun gerakan jika di internalnya gagal merekayasa sistem yang sehat untuk kemajuan bersama dan kesolidan gerakan. Efeknya justru aktivis menjadi bulan-bulanan dan sandera kepentingan elit. Seperti saat ini, momen-momen strategis lembaga justru tidak berkualitas tanpa adanya kuasa elit berjalan di dalamnya. Momentum kongres sebagai sarana menyalurkan ide progresif justru ternodai kepentingan elit sehingga pikiran-pikiran positif perubahan tidak lagi menjadi penjiwaan menyapa momentum strategis lembaga selain barter kuasa dominan elit. Tersanderanya gerakan mungkin masih bisa diatasi namun jika semua momentum besar sudah kosong ide perubahan, sudah terkontaminasi maka mana mungkin gerakan mahasiswa akan memiliki harapan untuk menciptakan perubahan bangsa ke arah positif. Inilah titik nadir gerakan aktivis padahal harapan terbesar bangsa ini ada pada mahasiswa, sebagaimana pernah disinggung oleh Pramoedya Ananta Toer, “Hanya mahasiswa harapan perubahan karena posisinya tidak berada dalam gelongan elit.”

  Harapan Itu Masih Ada

Meski demikian, tetap ada harapan dengan mendorong beberapa hal penting, membenahi internalnya. Jangan sampai gagal memetakan dan merumuskan visi kelembagaan secara internal karena akan mudah dimasuki kelompok kepentingan. Kemudian, membangun visi yang cemerlang disertai metodologi pergerakan yang terukur. Visi yang baik akan bisa menyolidkan kembali mahasiswa, harapan penyatuan akan bisa dilakoni kembali. Kebutuhan akan penataan pengetahuan ke arah spesifik dan profesional sangat penting dilakukan agar wacana mahasiswa tidak terjebak dalam rumusan epistemologi semata, yang akan menyebabkan fantasi pemikiran. Gagasan yang umum akan sulit diaktualkan sehingga perlu adanya kesadaran individu dan kolektif untuk membangun profesionalitas agar ide-ide mahasiswa bisa semakin konstruktif tidak sekedar kritis saja. Jika ini berhasil dilakukan maka selanjutnya perlu membangun forum bersama untuk menciptakan konsolidasi gerakan yang massif. Forum akan berfungsi menyatukan ide, gerakan dan membuat pergerakan terukur dan tidak membuang energi. Gerakan bilangan biner (0, 1, 0, 1, dst) yang terjadi selama ini akan membuang banyak energi tanpa hasil maksimal sehingga adanya forum akan bisa mengatasi kelemahan tersebut. (KETUA BEM KMFA UGM)

Sumber: bem.farmasi.ugm.ac.id

Peran Kita yang Setia pada Idealismenya

Dunia kampus benar-benar memberi pemahaman yang sangat berbeda dibanding ketika dulu masih duduk di bangku sekolah. Pemahaman yang tidak lagi berkutat pada ‘aku’. Tapi pemahaman yang mulai peduli tentang ‘mereka’ dan ‘kita’ sebagai manusia dan bangsa. Pemahaman ini memberikan saya kesadaran tentang idealisme khas mahasiswa dan realitas yang kadang membuat idealisme tidak mampu berbicara banyak.

Idealisme khas mahasiswa yang saya maksud adalah sama seperti pemahaman dan keyakinan anak-anak muda generasi 1908, 1928, 1945, 1966, dan 1998, dimana mereka adalah orang yang bebas dan merdeka dalam berpikir, mengekspresikan ide dan gagasannya sebagai kaum intelektual. Dan menginginkan kemerdekaan dan kejayaan untuk bangsanya. Yang saya kagumi dari mereka adalah mereka orang-orang dengan kapasitas dan prestasi luar biasa, namun memiliki akar yang kuat, yang tetap menyerap sari-sari pati kehidupan dan kebaikan (grass root understanding but have world competence).

Idealisme tersebut mengakar kuat dalam jiwa dan muncul ke permukaan sebagai integritas dan kredibilitas yang tinggi sebagai anak bangsa. Idealisme ini selalu berlaku tanpa ada masa kadaluarsa, selalu diwariskan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan perubahan yang dinanti. Idealisme ini muncul tanpa dipaksa, murni dari dasar nurani dengan kesadaran tinggi dan kecintaan yang mendalam.

Tanpa perlu pretensi, setiap pemuda mewarisi idealisme ini dengan sepenuh hati. Idealisme yang menjiwai setiap perubahan. Idealisme yang mengajarkan turun ke jalan, bukan hanya sekadar demonstrasi dan orasi. Tapi aksi nyata membangun negeri berupa aksi kongkrit terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat tempat kita dibesarkan sebagai aktualisasi dari gelar kaum intelektual yang disandang. Idealisme ini mengajarkan keberanian dalam bertindak dan tanggung jawab bahwa masa kini dan masa depan negeri ini ada di tangan anak-anak muda.

Hingga sejarah bercerita kepada kita bahwa sejarah negeri ini adalah cerita anak-anak muda. Tahun 1908 menjadi momentum kebangkitan. Tahun 1928 menjadi momentum penyadaran tentang kesamaan(bukan perbedaan), persatuan, dan kesatuan. Tahun 1945 merupakan momentum yang dinanti dari perjuangan panjang untuk mengumandangkan kedaulatan di tanah sendiri. Tahun 1966 merupakan akhir dari PKI di Indonesia dan awal orde baru. Dan pada 1998 terjadi peristiwa besar yang menjadi momentum perantara kita menuju era sekarang.

Pada setiap momentum perubahan, pemuda terpelajar selalu ada di depan dan sangat penting perannya. Mereka menjadi inisiator sekaligus motor perubahan. Bahkan pada titik tertentu mereka menjadi katalisator yang memaksa dan memberi arah perubahan. Setiap jaman ada rijalnya.

Saya sadar betul bahwa rijal atau pemuda terpelajar di zaman ini salah satunya adalah saya. Berbeda ketika dulu di masa sebelum kuliah, saya adalah anak kecil ingusan yang fokus hidupnya hanya seputar ego dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Dan kini saya berada pada fase yang pernah dilalui orang-orang besar pengusung perubahan dulu, yakni mahasiswa.

Sebenarnya sudah sejak SMA saya dikenalkan dengan sesuatu bernama agent of change, iron stock, dan social control. Tapi ketika itu masih belum membekas dan hanya sekadar tahu saja. Dan sekarang saya hadir di lingkungan kampus yang mengajarkan banyak hal, termasuk idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa. Sepertinya saya benar-benar mewarisi idealisme tersebut.

Semakin kesini saya semakin sadar, idealisme warisan itu kini mendapat banyak tantangan seiring perkembangan zaman. Apa jadinya ketika idealisme tak sesuai realita atau realita tak sesuai idealisme?

Globalisasi yang menghantui

Saya sempat tertawa membaca ilustrasi di notes Facebook-nya Bang Ridwansyah Yusuf Achmad, Presiden KM ITB 2009-2010, tentang globalisasi. Seseorang sempat ditanya perihal globalisasi.

Pertanyaan : “Apakah contoh yang paling kongkrit dari Globalisasi?”

Jawaban : “Kematian Lady Diana.”

Penasaran : “Bagaimana bisa seperti itu?”

Jawaban : “Lady Diana adalah orang Inggris yang mempunyai pacar orang Mesir, mengalami kecelakaan di sebuah terowongan di Perancis saat mengendarai mobil buatan Jerman yang mesinnya berasal dari Belanda. Supirnya orang Belgia yang mabuk karena minum whiskey Skotlandia.

Saat terjadinya kecelakaan itu, Sang Putri sedang dikejar-kejar paparazzi asal Italia yang mengendarai sepeda motor buatan Jepang. Sebelum meninggal, Lady Diana dirawat oleh seorang doktor Amerika dengan obat-obatan yang diproduksi di Brazil. Dan tulisan ini mulanya dikirim oleh seorang Armenia menggunakan teknologi Bill Gate.

Ketika Anda sedang membaca tulisan ini kemungkinan menggunakan salah perangkat komputer atau handphone yg memakai chip buatan Taiwan dengan monitor buatan Korea yang dirakit buruh-buruh asal Filipina di sebuah pabrik di Singapura. Diangkut dengan kereta oleh orang India dan dibajak oleh orang Indonesia dan akhirnya dibeli oleh Anda.”

Nah, humor ilustrasi di atas mengambarkan betapa globalisasi seperti meniadakan batas antarnegara. Menurut Anthony Giddens, globalisasi adalah intensifikasi hubungan sosial tingkat dunia yang mempertemukan erbagai tempat (lokalitas) sedemikian rupa sehingga kejadia-kejadian yang terjadi di suatu daerah dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang berlangsung di tempat-tempat yang sangat jauh dan demikian pula sebaliknya [1].

Globalisasi mempengaruhi tiap aspek kehidupan. Dalam praktiknya arus informasi tiap detiknya dapat diakses kapan saja dan dimana saja, bahkan dalam perdagangan pun sudah diberlakukan kawasan perdagangan bebas (free trade area) yang bagi beberapa negara hal ini menjadi ancaman.

Sebuah konsekuensi logis yang tercipta dari globalisasi adalah jejaring kerjasama yang semakin lebar dan telah melewati batas geografis, etnis, agama, bahkan idealisme. Bagi Indonesia tampaknya hal ini masih menjadi ancaman. Kita semua menyaksikan banyak produk-produk luar negeri masuk ke pasar-pasar Indonesia. Mulai dari barang elektronik berwujud telepon seluler dilengkapi televisi hingga tusuk gigi pun diimpor. Masyarakat ekonomi di negeri ini seperti sangat sulit bersaing dengan produk-produk buatan Cina yang terkenal murah-meriah.

Sisi lain dari globalisasi adalah berkembang pesatnya teknologi informasi dan komunikasi. Siapapun bisa mengakses informasi yang terjadi di belahan bumi manapun. Berkembangnya jejaring sosial media pun membawa dampak yang luar biasa. Seseorang dapat menjadi sangat terkenal hanya dengan mengunggah video lipsing atau tarian caiyya caiyya ala Norman Kamaru. Bahkan revolusi Mesir hingga menumbangkan Husni Mubarrak tidak lepas dari peran jejaring sosial media.

Zaman sudah berubah, globalisasi memberi warna tersendiri bagi zaman ini dan orang-orangnya. Hadirnya globalisasi hari ini lebih seperti ancaman atau momok yang menakutkan. Semula globalisasi diharapkan mampu menjanjikan masa depan dunia yang lebih indah. Tapi kenyataannya dunia—termasuk Indonesia dipaksa untuk menerima bahwa sistim ekonomi yang paling produktif adalah sistim yang ramah pada pasar. Maka jadilah pasar Indonesia sebagai pasar dengan watak market-friendly. Kita dipaksa lupa bahwa pasar tak pernah punya nurani, seratus persen mencari profit tanpa mempertimbangkan apa pun juga. Bila kita cermati, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin cenderung makin menganga lebar. Di akhir dasawarsa 1990-an, 20 persen penduduk dunia yang hidup di negara maju menikmati 86 persen penghasilan dunia, sedangkan 20 persen paling bawah hanya mendapat 1 persen penghasilan dunia. Sekitar 1/6 penduduk dunia berpenghasilan kurang dari satu dolar sehari. [2].

Belum lagi di negeri ini terdapat banyak sekali korporasi-korporasi besar yang mencengkeram kencang tanah-tanahnya, bahkan sampai mencekik leher rakyat-rakyatnya. Korporasi-korporasi besar tersebut dengan mudah mendikte, bahkan kadang-kadang membeli pemerintah meloloskan keinginan mereka. Sebut saja Freeport yang sejak dahulu sudah mengobrak-abrik kesucian ibu pertiwi di Papua. Di sisi lain sumber daya alam kita terus saja dikeruk dan dihabisi. Menurut data British Petroleum Statistical Review, Indonesia hanya memiliki cadangan batubara sebesar 4,3 miliar ton atau 0,5 persen dari total cadangan batubara dunia menjadi pemasok utama batubara China yang memiliki cadangan batubara sebesar 114,5 miliar ton atau 13,9 persen dari total cadangan batubara dunia. Saat ini, Indonesia telah mengekspor 240 juta ton dari rata-rata produksi 340 juta ton per tahun. Di sektor migas, penguasaan cadangan migas juga masih didominasi oleh perusahaan asing. Dari total 225 blok yang dikelola kontraktor kontrak kerjasama non-Pertamina, 120 blok dioperasikan perusahaan asing, 28 blok yang dioperasikan perusahaan nasional, dan 77 blok sisanya dioperasikan oleh perusahaan gabungan asing dan lokal [3].

Globalisasi dapat menjadi ancaman juga sekaligus tantangan. Tergantung darimana sudut pandang kita melihat. Akan lebih baik jika kita memilih pendapat bahwa globalisasi adalah tantangan. Tantangan untuk lebih kreatif agar bisa survive dari serangan produk-produk luar negeri dan mampu bersaing di perdagangan internasional. Tantangan bagaimana pendidikan, riset, dan teknologi, kita mampu menyusul dan melampaui negara-negara maju. Tantangan untuk mampu menguasai teknologi informasi dan mengontrol masuknya nilai-nilai dari luar yang bisa mempengaruhi karakter anak-anak remaja khususnya dan masyarakat secara umum. Tantangan bagaimana membebaskan negara ini dari belenggu-belenggu asing atas penguasaan sumber dayanya.

Dengan demikian kita semua mafhum bahwa globalisasi yang terjadi dengan didukung perkembangan teknologi informasi dan komunikasi benar-benar membawa ekses yang besar bagi dunia. Ia bisa menjadi tantangan, tapi juga bisa menjadi ancaman bak momok yang menakutkan.

Konsolidasikan Gerakan Kita Segera

Kembali kepada idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa dengan realita kekinian yang menghadang di depan. Kemudian kita melihat globalisasi ini juga memiliki pengaruh yang demikian besar pula pada gerakan mahasiswa. Globalisasi juga menjadi tantangan bagi gerakan pemuda dan mahasiswa hari ini. Tapi seketika globalisasi bisa saja menjadi ancaman kala gerakan kita belum mampu membaca trend globalisasi dan masih terjebak pada romantisme masa lalu di jalanan. Globalisasi menuntut gerakan mahasiswa lebih terbuka, inovatif, dan dinamis agar dapat selalu mengikuti ritme perkembangan globalisasi. Memang menjadi sebuah dilema, apakah mahasiswa akan tetap bergerak dengan “gaya lama” yang bisa jadi selama ini telah menuai banyak sejarah romantis yang sulit dilupakan, ataukah mahasiswa bersedia mereposisi, dan merevitalisasi gerakannya agar dapat diterima dan bermanfaat untuk masyarakat. Kunci utama dari perubahan ini adalah: tetap dengan idealisme ala mahasiswa. Ini PR kita bersama.

Nah, berikutnya yang akan kita hadapi adalah mahasiswa itu sendiri. Perkembangan zaman juga telah mempengaruhi dan mengarahkan pola pikir mahasiswa terjebak dalam arus yang cenderung materialistis. Coba saja lakukan survei pada sebagian mahasiswa tentang apa tujuan mereka mencari ilmu di perguruan tinggi. Kebanyakan akan menjawab supaya mendapat pekerjaan yang layak, agar nanti dapat hidup dengan mapan dan nyaman. Tak ada yang salah. Hanya saja yang jelas tampak adalah mahasiswa amat terpikat dengan hal ini sehingga lupa dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Janganlah lupakan tanggung jawab dan idealisme ini!

Setelah idealisme warisan pusaka ini masih tetap terjaga dan terpelihara, selanjutnya gerakan mahasiswa harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan semua peluang dan fasilitas yang ada untuk mendukung idealismenya menjadikan negeri ini sebagai negeri mandiri dan sejahtera. Gerakan mahasiswa sangat diharapkan mampu menstimulus keinginan menyuarakan ide, gagasan, dan opini dari pikiran seseorang ke publik.

Zaman ini juga mengisyarakan bahwa gerakan mahasiswa sekarang tidak melulu adalah sekadar soal politik, kebijakan, dan kekuasaan. Tapi juga yang paling penting adalah menyiapkan diri kita sendiri untuk memberikan kontribusi nyata sesuai bidang-bidang yang ada ketika saatnya tiba kita memimpin.

Mahasiswa dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori minat dan potensi, yakni: aktivis, atlet, seniman, akademisi, dan entrepreneur. Bila setiap kategori ini mampu dibesarkan secara massif, maka potensi yang besar ini setidaknya melegakan kita sementara bahwa kita sudah siap untuk berkontribusi dan memimpin di segala bidang untuk membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera. Kita percaya Indonesia akan mandiri dan sejahtera manakala kelima potensi tersebut dikelola dan dikembangkan dengan baik.

Jangan sampai gerakan mahasiswa tidak melibatkan seluruh potensi yang dimiliki oleh mahasiswa yang ada. Karena salah satu tujuan keberadaan gerakan mahasiswa adalah untuk mengoptimalisasi dan mengsinergikan potensi. Bila gerakan mahasiswa hanya didominasi oleh sekelompok kecil mahasiswa yang menghegemoni, maka gerakan tersebut sangat dipertanyakan kredebilitas dan representasinya.

Tentu fokus kita tetap pada bagaimana Indonesia mampu benar-benar meraih kemerdekaannya secara riil sehingga kita bisa hidup mandiri dan sejahtera. Untuk bisa menjadi Indonesia yang mandiri dan sejahtera, ada beberapa parameter yang harus dipenuhi. Pertama, aspek ekonomi. Disini kita butuh sumber daya manusia yang unggul, teknologi tepat guna, dan kesejahteraan sosial.

Kedua, aspek politik. Merupakan hal yang penting dan perlu disegerakan adalah: kestabilan politik dalam dan luar negeri, pemimpin yang tidak terikat dengan rakyat, serta produk politik dan kebijakan poliik yang memakmurkan rakyat.

Ketiga, aspek sosial budaya. Bangsa kita menjadi bangsa yang berkarakter, pendidikan berkualitas dan terjangkau oleh semua kalangan, serta kualitas hidup yang layak.

Keempat, aspek ilmu pengetahuan dan teknologi. Kepercayaan diri untuk menggunakan dan memberikan teknologi buatan anak bangsa kepada masyarakat kita dan dunia, nilai tamah potensi kekayaan alam dan kompetensi kekayaan insani Indonesia, serta sinergisasi kebijakan IPTEK nasional

Di atas sudah dibahas tentang lima minat dan potensi yang harus dikembangkan secara massif untuk menyokong perubahan. Pada tataran berikutnya, dari kelima minat dan potensi ini kita mencoba menyarikan menjadi tiga kekuatan utama untuk membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera: akademisi, bisnis, dan pemerintah. Dan inilah yang disebut konsep Triple Helix yang merupakan konsep sinergi tiga kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah. Kalangan akademisi dengan sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologinya memfokuskan diri untuk menghasilkan berbagai temuan dan inovasi yang aplikatif. Kalangan bisnis melakukan kapitalisasi yang memberikan keuntungan ekonomi dan kemanfaatan bagi masyarakat. Sedang pemerintah menjamin dan menjaga stabilitas hubungan keduanya dengan regulasi kondusif.

Konsep ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini yang sedang dilirik asing. Kita berharap kita benar-benar mandiri. Manusia-manusia kita mampu mengolah dan menguasai sendiri sumber daya alamnya. Merancang dan membangun sendiri teknologinya. Mengeluarkan kebijakan yang memproteksi kepentingan rakyat dan sumber dayanya. Dan mampu memberikan sokongan dana serta memasarkan produk-produk dalam negeri secara efektif.

Menurut Global Competitiveness Report terkini, Indonesia duduk di peringkat ke-30 dari 142 negara, ditilik dari kapasitas inovasinya. Ini merupakan keunggulan komparatif yang tak bisa dipandang sebelah mata karena Indonesia bahkan mengungguli negara berekonomi lebih maju, seperti Spanyol di peringkat ke-36 dan Hongkong peringkat ke-39. Namun, ironisnya angka pengangguran lulusan perguruan tinggi di Indonesia mencapai 1,2 juta orang (2012).

Kondisi ini menunjukkan bahwa belum ada padu padan (link and match) antara kampus dan pasar kerja. Dalam tataran ideal, kampus seharusnya menjadi motor penggerak penciptaan lapangan kerja, bukan sekadar menghasilkan pencari kerja. Kita terpaksa harus mengakui, perguruan tinggi baru sebatas menjadi ”mesin” yang memproduksi sebanyak mungkin sarjana. Dan inilah yang juga menjadi tantangan kita selanjutnya [4].

Terakhir dalam tulisan ini, tentang peranku dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera. Secara sangat sadar bahwa saya adalah bagian yang tak terpisahkan dari gerakan anak-anak muda, gerakan dengan idealisme ‘jalanan’ ala mahasiswa yang memperjuangkan kebenaran atas nama rakyat Indonesia. Saya adalah bagian dari gerakan yang mulai meluaskan manuvernya pada sector-sektor vital untuk membangun negeri ini.

Agent of change, iron stock, dan social control, harus dimaknai dengan makna yang meluaskan peranannya. Mencoba mencari-cari peran saya dalam membangun Indonesia yang mandiri dan sejahtera dengan melihat posisi dan amanah saya saat ini maka:

1. Saya adalah pewaris idealisme yang menjadi semangat perubahan dan kejayaan tiap zamannya. Namun, saya harus jeli dalam melihat tantangan dan menangkap peluang sebab zaman terus berubah dan gerakan yang fleksibel dan adaptif sangat diperlukan.

2. Saya memiliki tanggung jawab besar. Tanggung jawab terhadap sejarah yang telah ditorehkan dan tanggung jawab terhadap masa depan yang akan diukir. Tanggung jawab tentang kesadaran diri dan penyadaraan orang-orang di sekitar saya.

3. Saya bersyukur ditakdirkan menuntut ilmu di Program Studi Sistem Komputer Fakultas Teknik Universitas Diponegoro. Peran saya adalah mengaktualisasikan keilmuan saya ini dan menjadi solusi atas banyaknya sarjana yang menganggur. Sejujurnya saya memiliki mimpi untuk membangun lembah yang akan mengkatalis tumbuhnya perusahaan-perusahaan bidang IT, seperti Stanford University dengan Silicon Valley-nya. Harapan saya adalah pengembangan IT ini mampu menjadi katalisator kemajuan di bidang-bidang lainnya.

4. Amanah saya sebagai Kepala Departemen Kebijakan Publik Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik Keluarga Mahasiswa Universitas Diponegoro mengharuskan saya untuk setia mengawal setiap kebijakan dan produk politik negeri ini sambil sesekali turun ke jalan. Teori Lord Acton mengingatkan saya bahwa manusia yang mempunyai kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekuasaan itu, dan manusia dengan kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalahgunakannya (power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely) [5].

Referensi:

[1]       Rais. Amien, Agenda-agenda Mendesak Bangsa: Selamatkan Indonesia,Yogyakarta: PSSK, 2008.

[2]        Ibid.

[3] Kompas, Rabu, 25 Mei 2011.

[4] Bakrie. Anindya N, Triple Helix dan Percepatan Inovasi,” September 4, 2012, Available: http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/11805.

[5]       X. Sultan Hamengku Buwono, Merajut Kembali Keindonesiaan Kita, Jakarta: Gramedia, 2008.

Sumber: muda.kompasiana.com | Oleh: Taufik Aulia Rahmat

Pemuda Antara Visi dan Perubahan

  Pembangunan dan kesejahteraan kota modern sangat ditentukan oleh bagaimana visi pemuda yang ikut berperan di dalamnya. Pembangunan dan kemajuan juga ditentukan oleh bagaimana pola dan perilaku pemuda terhadap konsep perubahan menuju kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Untuk memahami peran dan visi kepemudaan terhadap pembangunan bangsa ke depan, Radar Indonesia sengaja menurunkan tulisan Sdr. Furqon Bunyamin Husein -Tokoh Muda yang aktif sebagai Ketua Umum di Forum Peduli Masyarakat Jakarta. Selamat membaca.


Pertumbuhan, kemajuan, perkembangan dan kesejahteraan masyarakat sebuah kota dan negara sangat identik dan paralel dengan perilaku, cara pandang dan visi pemuda. Di banyak peristiwa sejarah, kita terinspirasikan oleh kisah Muhammad Alfatih, Thoriq Ibn Ziyad, Usamah, Ali dan masih banyak lagi dari kisah yang lain. Pemuda dengan segala dimensinya merupakan energi baru yang menjadi mesin penggerak bagi keberlangsungan hidup sebuah masyarakat ke depan. Di punggung pemudalah harapan sebuah cita-cita besar itu diletakkan. Pemuda menjadi tumpuan bagi dan terhadap perubahan.
Pemuda dengan tugas dan harapan yang diembankan oleh masyarakat itu semestinya memiliki kapasitas yang dibungkus dengan visi dan pandangan terhadap fenomena politik, ekonomi, sosial, budaya yang berkembang. Pemuda harus mampu membaca situasi yang berkembang pada 4 hal utama ini agar visi dan gerakan yang diimplementasikannya kedepan sarat nilai bagi perubahan dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.Perubahan yang bermakna kesejahteraan dan tidak merobek nilai-nilai dan prinsip ideologis yang dianutnya.
Bila kapasitas pemuda yang diharapkan mampu mendobrak perubahan itu tidak memiliki dasar dan prisip yang jelas, maka perubahan nantinya hanya berupa gerakan yang penuh semangat tetapi tidak membawa perubahan yang diharapkan semula. Gordon Dryden dalam bukunya “The Learning Revolution” hal 148 mengagambarkan bahwa keberhasilan (sebuah perubahan)  itu merupakan gabungan antara gairah energitas dengan visi dan aksi. Gabungan inilah yang akan memberi sebuah kesuksesan. Pada halaman berikutnya, Gordon mengurai analisanya lebih tajam bahwa jika Anda memiliki gairah (energi) dan visi tetapi tanpa aksi, maka hal ini sama saja dengan melamun. Jika Anda memiliki visi dan aksi tetapi tanpa gairah maka pekerjaan Anda serba tanggung. Jika Anda memiliki gairah dan aksi tetapi tanpa visi maka Anda akan sampai di tempat yang keliru.
Dari penjelasan Gordon melalui buku “The Learning Revolution” yang ditulis setebal 556 halaman itu, di manakah posisi pemuda kita? Kalau kita cermati, kebanyakan pemuda di negeri ini tumbuh pada posisi ke tiga. Mereka tidak memiliki visi yang purna. Kalaupun ada, visi mereka justeru berseberangan dengan nilai perubahan yang diinginkannya. Karena sesungguhnya, perubahan dalam konteks kehidupan yang lebih luas adalah bermakna lahirnya sebuah kondisi masyarakat di sebuah tempat seperti yang dituangkan dalam pepatah jawa, ‘Gemah ripah Lohjinawi” yang diikuti ketentraman dan kenyamanan dalam arti yang sebenar-benarnya.
Cara pandang dan dasar pemikiran pemuda sebagai landasan utama terbentuknya visi itu masih dipengaruhi oleh cara pandang ikut-ikutan belaka. Mereka tidak memiliki kerangka dasar sebagai alat nilai sehingga visi yang lahir tidak bisa dipertanggung jawabkan. Coba Anda tanyakan tentang visi dan perubahan kepada salah seorang pemuda yang ada di dekat Anda. Mereka akan menjawab dengan senyum dan malu karena tidak mampu memberikan jawaban yang jelas tentang arti dan maksud perubahan yang dipahaminya itu.Agar pemuda memiliki visi dan misi yang sesuai ideologi yang dianutnya dan tidak mengalami “Split Personality” antara visi dan ideologi maka para orang tua bertanggung jawab membangun character building sejak awal anak itu dilahirkan hingga memasuki usia pemuda. Jangan biarkan anak-anak muda kita dididik oleh character orang lain melalui media penyiaran, surat kabar dan aktifitas yang kemudian berseberangan dengan apa yang kita harapkan dari segi ideologi.
Pemuda hari ini adalah produk dari sebuah proses pendidikan yang dialami pada rentang waktu anak-anak dan usia remaja mereka. Maka visi pemuda sekarang seperti yang dituangkan oleh Gordon Dryden dalam bukunya itu,  hanya bermodalkan semangat dan aksi tanpa dibarengi oleh pemahaman yang benar tentang sebuah perubahan. Visi inilah yang kemudian mengantar kita ke tempat yang keliru.Wallohu a’lam bisshowab. (Sumber: radarindo.com)

 

 

Peran dan Tantanganpemuda Dalam Membangun Jatidiri Bangsa

1.     Pengantar

 Sejarah NegaraKesatuan Republik Indonesa telah membuktikan bahwa pemuda adalahtokoh utama dalam menuuntukan jalan sejarah. Sumpah pemuda yangdideklarasikan pada 28 Oktober 1928 di Jakarta merupakan bukti nyatadari peran pemuda dalam menyusun cikal bakal berdirinya republik yangkita cintai ini. Selanjutnya pemuda jugalah yang mendesekSukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.Bila melihat lebih jauh kebelakang sejarah Aceh menunjukkan bahwaIskandar Muda telah menjadi raja di kerajaan yang berdaulat, AcehDarussalam pada usia yang relative sangat muda, kurang lebih 23tahan.

Dalam hal ini sangat perlu bagi generasi mudaIndonesia untuk  menjadikan sejarah sebagai refleksi gunamemupuk semangat dalam rangka pengambilan peran dalam membentukkarakter bangsa yang berdaulat.

Jati diri bangsa Indonesia adalah Pancasila dan UUD’45 dimana di dalamnya memuat segala aspek dalam upaya menumbuhkansikap toleransi, gotong-royong dan tenggang rasa sebagai modalmenciptakan masyatakat yang damai dan harmonis. Kebudayaan memangbersifat statis, namun berpegang teguh pada kedua prinsip di atasdapat menjadikan bangsa Indonesia sebagai bang sa yang tangguh dalamsegala situasi dan kondisi. Pemuda sebagai generasi penerus bangsaharus benar-benar berpegang teguh pada prinsip Pancasila dan UUD ’45.generasi muda harus terus menghayati semangat Sumpah Pemuda sebagaimodal pembinaan jati diri bangsa dan Negara.

Dala hal ini  Negara melalui Garis Beser HaluanNegara (GBHN) telah menggariska tujuan pembinaan generasi mudasebagaimana dikutip Prof. Djamaluddin Ancok (Ancok, 2004:39-40)sebagai berikut:

“Pembinaandan pengembangan generasi muda bertujuan untuk mengembangkan kaderpenerus bangsa dan pembangunan nasional dan pancasilais dandilaksanakan melalui usaha-usaha meningkatkan ketakwaan kepada TuhanYang Maha Esa; menanam dan menumbuhan kesadaran berbangsa danbernegara; mempertebal idealisme, semagat patriotisme dan harga diri;memperkokoh kepribadian dan disiplin; mempertinggi budi pekerti;memupuk kesadaran jasmani dan daya kreasi; mengembangkankepemimpinan, ilmu, ketrampilan dan kepeloporan serta mendorongpertisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan dalampelaksanaan pembangunan nasional”

 2.     Tantagan

2.1TantaganEkonomi

 Pemberontakanyang terjadi di setiap Negara hampir seluruhnya didasarkan padakesenjangan ekonomi. Pemberontakan yang tejadi di setiap Negaramenunjukkan suatu Negara tidak memiliki jati diri yang mantap.

Kolonialtidak meninggalkan Negara-negara jajahan mereka dengan cara cucikaki. Pada setiap negara jajahan, mereka telah  menanam ideologitertentu dimana meski secara fisik mereka telah meninggalkan Negarajajahan mereka, namun pada hakikatnya mereka masih menjajah Negaratersebut. Jadikan Jepang sebagai contoh. Dulu ketika Jepang menjajahIndonesia, mereka mengambil setengan dari hasil bumi masyarakat.Kalau panen padi sejumlah 100 kg, mereka menyita 50 kg. Kenapa tidakmereka mengambil semua? Karena kalau mereka mengambil seluruhnyamasyarakat akan mati kelaparan. Kalau masyarakat mati, maka tidak adalagi yang memanen apapun untuk kali selanjutnya. Kalau tidak ada yangmemanen maka Jepang tidak dapat memungut apapun. Penjajahan era modermemiliki model yang agak berbeda. Mayoritas masyarakat membayarsetengah dari gaji dan hasil usaha mereka untuk cicilan kendaraan danalat elektonik yang hampir seluruhnya produksi Jepang.

Sebuahbarang dijual dengan harga Rp.500,-. Di sana terdapat 7 orang yangmasing-masing mengantongi Rp.100,-. Maka dipastikan tidak seorangpunyang mampu membeli barang tersebut. Untuk agar barang tersebut dapatterjual adalah mengatur dengan cara bagaimanapun agar salah seorangdiantara tujuh orang tersebut mengantongi Rp.500,- dan sisa Rp.200,-dibagi rata untuk 6 orang lainnya. Demikian cara Negara majumengontrol kondisi ekonomi rakyat di Negara berkembang agarproduk-produk barang mewah dan paket wisata eksklusif yang merekatawarkan mempu dikonsumsi.  Dengan demikian para pejabat danpengusaha Indonesia dapat berbelanja perabotan rumahtangga di Belandadan artis Bollywood dapat menginap dihotel paling mewah di Inggrissampai berbula-bulan. Sementara itu, hutang Negara berkembang padaBank Dunia semakin membengkak.

Pemerintahadalah kunci utama dalam melepaskan bangsa ini dari perangkapkolonialisme modern. Pemerintah jangan seperti orang yangmenghidupkan kipas angin lalu kemudian berselumut. Gali lubang tutuplobang. Pendapatan dari pajak bea cukai minuman keras tidak cukupuntuk membayar gaji polisi dan jaksa dalam mengurus aksi kriminalitasakibat pengaruh minuman haram itu. Pendapatan pajak dari penerbit“buku-buku jihad” tidak cukup untuk menggaji Densus 88 antiterror.

Karenaitu dibutuhkan proteksi yang menyeluruh oleh pemerintah dalam upayapembentukan generasi muda potensial dalam upaya menemukan jati diribangsa yang utuh. Kalau rezim pemerintah saat ini tidak mampumengatasi persoalan bangsa yang amat rumit ini, dibutuhkan itikadbaik pemerintah dalam membentuk generasi muda penerus bangsa yanglebih baik. Dalam hal ini penerapan GBHN tentang pembinaan generasimuda harus diimplementasikan secara serius dan menyeluruh.

Selanjutnyakita sebagai generasi muda punya tugas dan tanggungjawab yang luarbiasa besar dimana kita harus mampu mempersiapkan diri menjadigenerasi pendobrak menuju Indonesia sebagai Negara maju 2030. Lebihdaripada itu Indonesia harus menjadi penguasa dunia di akhir abadXXI. Optimisme ini perlu kita tanamkan pada setiap diri genesari mudamengingat sejarah telah membuktikan bahwa keruntuhan negara-negaratermashur di dunia disebabkan optimisme dan semangat bangsa-bangsatertinggal. Jangan lupa Romawi dan Persia ditundukkan oleh bangsaArab yang saat itu dikenal sebagai bagsa paling terbelakang di bawahkolong langit. Siapa sangka kejayaan Baghdad takluk di bawahtangan-tangan bangsa Babar dan Tatar.

2.2Tantagan Agama

            Banyak kalangan umat Islam diIndonesia memiliki pikiran negatif terhadap dasar negara kita,Pancasila dan UUD ’45. Bahkan yang lebih membahayakan lagi adalahdoktin sesat dikalangan aktivis gerakan Islam yang menyamakan garudaPancasila sebagai berhala yang patut dihancurkan untuk menegakkankejayaan Islam. Pikiran-pikiran sesat demikan adalah produk doktrinagama (baca: Islam) yang dangkal. Umat Islam lupa bahwa tujuandaripada agama adalah menciptakan masyarakat yang  rukun, adildan damai. “Kamu(umat Islam) adalahumat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karenakamu) menuruh(berbuat) yangma’ruf dan mrncegah dari yang mungkar…’pesan surah Ali Imran:110.

           Kalau kita mencermati, kelimabutir dari Pancasila bersesuaian dengan perintah-perintah Al-Qur’an.Sila pertama besesuaian dengan surah Al-Ikhlas:1; sila kedua sejalandengan surah An-Nisa’:57; sila ketiga bersesuaian dengan surah AliIran: 103; sila keempat sejalan dengan perintan surah An-Nisa’:59dan; sila kelima sejalan dengan surat Al Hujurat:13. “Negara adalahdinama antara kau dan aku saling bersepakat, bukan aku memaksakankehandakku untuk kamu dan tidak pula sebagai tempat engkau memaksakankehandakmu padaku” kurang lebih Kahlil Gibran. Inti pendiriansebuah Negara adalah untuk saling mengenal dan saling menghargai demiterciptanya sebuah keharmonisan.

           Generasi muda harus mampumemahimi bahwa agama bukanlah Negara dan Negara bukanlah agama. CakNur telah mengajarkan pada kita untuk jeli membedakan mana urusandunia (baca: negara) dan urusan akhirat (baca: agama). Namun perludigarisbawahi bahwa Islam tidak mengenal dikotomi antara urusan duniadan urusan akhirat. Yang penting dalam Islam adalah tujuan (baca:niat) dari setiap individu. Sir. Muhammad Iqbal (Iqbal: 1966;166)menjelaskan “Dalam Islam pengertian jasmani dan rohani bukanlahkutub yang berlain-lainan, dan dua sifat perbuatan, betapapun diabersifat duniawi dalam pengartiannya, yang menentukan adalah maksudseorang melakukan perbuatan itu”. Nabi Saw. Dalam hadits riwayatMuslim Nabi Saw. bersabda “Apabilamengenai urusan agama serahkan padaku. Tetapi mengenai urusan duniawikamu lebih mengetahii akan urusannaya”.

           Aksi terorisme yang terjadi diIndonesia adalah karena pahan keagamaan yang sempit dari para pelakuteror. Mereka memaksakan pelaksanaan agama atas masyarakat kolektif(baca: negara). Ini adalah hal mustihil dan kontras dengan jiwaAl-Quran yang menyatakan “tidak ada paksaan dalam agama”. AhmedAn Na’im menjelaskan bahwa syari’ah sebagai suatu yang suci dariAllah tidak boleh terkontaminasi oleh tangan negara.

Penggalanisi GBHN dalam membina generasi muda mengisyarakan bahwa agamamemiliki peran penting dalam membentuk jati diri pemuda yangpancasilais “…mengembangkan kader penerus bangsa dan pembangunannasional dan pancasilais dan dilaksanakan melaluiusaha usahameningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa;…”.Maksudnya pengajaran Islam yang benar pada generasi muda dengansendirinya melahirkan generasi bangsa yang memiliki “semagatpatriotisme dan harga diri; memperkokoh kepribadian dan disiplin;mempertinggi budi pekerti; memupuk kesadaran jasmani dan daya kreasi;mengembangkan kepemimpinan, ilmu, ketrampilan dan kepeloporan sertamendorong pertisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dandalam pelaksanaan pembangunan nasional”

           Selanjutnya generasi mudabersama-sama harus menjadikan paham-paham yang memperburuk citrabangsa yang mengatasnamakan agama.sebagai musuh bersama dan harusdibabat habis. Genarasi muda harus mempelarari agama secara mendalamdan menyeluruh agar tidak menjadi orang yang menjual agama ataskepentingan-kepentingan kolompok-kelompok tertentu. Agama harusmenjadi dasar berpijak dalam melangkah menuju generasi muda yangmampu membentuk jati diri bangsa cinta damai.

2.3Tantagan Globalisasi

            Kita boleh mengatakan sedangberada di Banda Aceh dan berada pada waktu sekarang ini dan hari ini.Itu benar dari segi fisik. Namun sebanarnya kita sedang berada dibawah kolong yang sangat sempit bernama langit. Era informasi dandigital abad XXI telah mempraktikkan apa yang dahulu dianggapmustahil dan konyol. Tantangan yang dihadapi pemuda dalam hal inibukanlah mengenai kemampuan  mereka mengaksesfasilitas-fasilitas komunikasi-informasi. Namun yang menjadipersoalan amat besar adalah ketidak mempuan pemuda dalam memenfaatkanfasilitas-fasilitas tersebut kea rah yang poseitif dan edukatif.fasilitas-fasilitas komunikasi-informasi adalah dajjal yangkahadirannya samasekali sulit dicegah. Satu-satunya jalan keluarmengatasi persoalan ini adalah kesadaran generasi muda akan efekpositif dan negative yang ditawarkan.

           Ada beberapa penyakitglobalisasi yang secara umum telah menjangkit generasi muda kita diungkapkan Al-Qarni (Al-Qarni:2007:31-40) beberapa diantaranya: gilamode; terpengaruh iklan; kecanduan narkoba; keranjingan tayangantelevisi dan video; hobi berteriak dan; saling mencela dan menjadisupporter fanatik. Pemuda telah meninggalkan gaya hidup ketimuranyang penuh dengan prinsip mencintai kebudayaan sendiri.Sahabat-sahabat generasi muda masa kini harus insaf dan sadar bahwa kita adalah calon penerus bangsa. Ditangan kita masa depanbangsa bergantung. Karena itu menfaatkan fasilitas teknologikomunikasi dan informasi sebaik mungkin sebagai sarana pengembanganskill dan mental kita dalam rangka menyongsong masa depan bangsa yanglebih cerah. “Jangan harapkan bangsa lain yang  akan datangmenyelamatkan bangsa ini, melainkan bangsa ini sendirilah yang harusberusaha menyelamatkan bangsanya sendiri” demikian kurang lebihungkapan Surya Paloh.

3.      Peluang

 3.1 PotensiSumberdaya Alam

 Indonesia sebagainegara agraris yang memiliki sumberdaya alam (SDA) yang melimpahhendaknya tidak terpengaruhi oleh standar-standar kesuksesan yangdibuat negara-negara yang  memiliki potensi yang berbeda dengankita. Sebagai contoh, boleh saja Jepang mengakui diri unggul dibidang teknologi, sebab kalaupun mereka mau unggul di bidangpertanian itu adalah hal yang hampir mustahil sebab potensi alam yangdimiliki tanah air Jepang berbeda dengan kita.  Doktrin-daoktinpenyeragaman standarisasi keunggulan dan keberhasilan adalah sebuahpenyakit yang telah membunuh banyak potensi. Sekarang ini Negara yangdiakui maju adalah yang berhasil meningkatkan produsi teknologiterbanyak.

Keterlenaan dalam standar menyesatkan itu telahmemaksa banyak petani menjual sawah mereka untuk berusaha mati-matianmenyekolahkan anak sampai memperoleh title setinggi-tingginya. Merekalupa bahwa banyak sarjana yang telah puluhan tahun kuliah namun masihtetap saja menganggur. Mereka lupa bahwa sekarang hanya butuh waktutiga bulan hasil panen telah dapat mereka nikmati.

Ironisnya  minat generasi muda semakin lamasemakin menurun dalam memilih jurusan yang berkaitan denganpertanian  di perguruan Tinggi (PT). Ini mencerminkan generasimuda kita tidak memiliki prinsip dan komitmen. Ketika gaji gurudinaikakan, mereka masuk FKIP, ketika terjadi bencana di sutu daerahberbondong-bondong  masuk Fakultas kedokteeran dan FakultasTehnik. Ini tidak ubahnya dengan pribahasa Aceh “Meunan trohkapai baro pula lada”. Pribahasa ini ditujukan pada masyarakatyang pendek penalarannya.

Kita sebagai generasi muda harus peka dalammenganalisa potensi kepribadian dan lingkungan yang kita miliki.Untuk menghidupkan kesadaran ini kita harus kritis terhadappropaganda yang datang dari luar dan peka terhadap lingkungansekitar.  Insya Allah bila kita mampu meningkatkan produktifitaspertanian, maka mustahil bagi kita untuk menjadi bangsa yangteringgal. Jangan sampai Negara agraris mengimpor beras. “Celakalahsuatu bangsa yang memakan tidak dari apa yang dia tanam” KataKahlil Gibran.

3.2. Potensi Pluralitas

 “Bhinneka TunggalIka” kalimat yang digenggam kuat oleh burung garuda harus meresapkuat dalam dada setiap generasi muda Indonesia. Meski terdiri dariberagam suku dan  ratusan bahasa daerah namun rantai “PersatuanIndonesia” telah membuang sifat keakuan pada setiap diri generasimuda hingga timbullah kesadaran “aku Indonesia” yang utuh.

Semangat “aku Indonesia” ini harus menjadi modalbegi setiap diri pemuda agar optimis menatap masa depan Indonesiayang lebih cerah. Selama ini’ kita merasa malu di hadapan duniainternasional akan kedirian kita sebagai orang Indonesia. Seharusyakita menjadi bangsa yang paling bangga diatas semua bangsa lain didunia. Tidak ada negara yang dihuni oleh beragam suku dan agamamelebihi Indonesia. Namun dalam pluralitas yang luar biasa ini kitamampu hidup rukun dan damai. India yang hanya di huni masyarakatHindu dan Islam hamper setiap hari menumpahkan darah atas nama agama.Di Irak selalu terjadi pertikaian antara sunni dan syiah. Di Eropadan Amerika rasisme telah mendarah daging.

 3.3. Potensi Kuantitas

            Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki jumlah pendudukterbanyak di dunia. Bila kita kreatif maka keunggulan di bidangkuantitas akan menjadi peluang yang sangat menyuntungkan kita semua.Cina dengan jumlah penduduk mancapai angka satu milyar mampu menjadinegara yang pertumbuhan ekonominya paling pesat. Kunci kesuksesanCina adalah karena mereka memilimalisir impor produk-produk darinegara lain. Apa saja kebutuhan rakyatnya diproduksi sendiri. Setelahkebutuhan dalam negri terpenuhi mereka mulai merambah pasarinternasional memjajakan produk-produk mereka. Barang-barang produksiCina laris di pasaran sebab harga yang ditawarkan lebih murah.Unggulnya Cina dalam persaingan harga bukan karena kualitas produkmereka rendah melainkan karena upah buruh di sana sangat minim.Minimnya pendapatan rakyat Cina tidak menjadi masalah sebab keburuhanrakyat Cina sangat sedikit.

           Nabi Saw. berpesan agar kita menuntut ilmu ke Cina. Konteknya adalahkita harus belajar dari bangsa Cina bagaimana tetap kokoh di tengahkrisis global yang melanda dunia. Bila negara kita ingin maju makakita harus mampu memproduksi sendiri kebutuhan bangsa kita, tidakmengimpor dari luar negri.  Kita punya sumber daya alam yangmelimpah, kita punya kuantitas yang membludak, tapi kita harus hijrahke negri orang untuk mencari pekerjaan. Kita punya pohon karet. Karetdiekspor ke luar negri, rakyat keluar untuk bekerja di pabrik ban diluar negri lalu kita membeli ban dengan harga yang mahal. Alasanketidakmungkinan di Indonesia mendirikan banyak pabrik hanyalahmitos. Persoalan kita yang sebernarnya terletak pada minimnyasumberdaya manusia yang potensial dalam mengelola sumberdaya alamkita sendiri.  Kalaupun kita punya manusia yang berkualitas makakondisi politik tidak memunkinkan mereka mengelola SDA sendiri.Bukankah sangat banyak putra-putri Indonesia yang cerdas terusir darinegrinya sendiri dan baru mampu mengembangkan potensinya di negriorang.

           Jadi persoalan utamanya terletak pada elit penguasa. Pemerintah kitatelah mengikat perjanjian-perjanjian dengan negara-negara maju dimana selalu merugikan kita dan menguntungkan negara maju. Elit kitalebih senang memakan pajak karena itu menguntungkan pribadi mereka.Sejalan dengan itu SDA kita semakin terkuras, SDM teabaikan danrakyat terus-menerus dalam kesengsaraan.

           Dalam pertemuan yang singkat ini saya mengejak para pemuda untukmembuang jauh-jauh prinsip mementingkan diri sendiri dan mengabaikanorang-orang di sekitar kita. Hidup ini bukan kualifikasi piala duniadimana kita akan mampu berkompetisi di pentas akbar setelahmenundukkan tetangga-tetangga kita. Hal ini tidak diajarkan olehideolodi manapun selain kapitalisme dan materialisme.

           Jati diri bangsa kita adalah budaya santun, ramah, disiplin dangotong-royong. Inilah yang harus kita tanamkan pada setiap dirigenerasi muda agar terciptanya Indonesia yang berdaulat danbermartabat.

Mari kita jadikan momen peringatan sumpah pemudake-81 ini sebagai awal pembentukan semangat baru dalam diri kitauntuk terciptanya generasi mendatang yang lebih cemerlang.

Daftar Bacaan:

Al- Qarni, Aidh, Jadilah Pemuda Kahfi, Solo: Aqwam, 2007

Al-Qur’an danTerjemahannaya, Syaamil, Bandung

Ancok,Djamaluddin, Psikologi Terapan, Yogyakarta: Darussalam, 2004

Iqbal, Sir Muhammad, Rekonstruksi Pemikiran Agamadalam Islam  Jakarta: Tintamas, 1966

Madjid, Nurchalis, IslamKemoderenan dan Keindonesiaan Bandung: Mizan, 2008

Sumber: abumuhammadibrahim.webs.com